By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Opini HMI Cabang Nunukan: September Hitam, Luka dan Amarah yang Memuncak
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Opini

Opini HMI Cabang Nunukan: September Hitam, Luka dan Amarah yang Memuncak

Redaksi
Last updated: 2 September 2025 14:55
Redaksi
Published: 2 September 2025
Share
SHARE

Nunukan – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Nunukan menilai September sebagai bulan yang sarat luka sejarah bangsa. Dari tragedi 1965, Tanjung Priok, Talangsari, Trisakti, Semanggi, hingga Kendari—semuanya meninggalkan jejak darah mahasiswa dan rakyat, yang menjadi saksi bisu praktik kekuasaan yang dinilai sewenang-wenang.

Dalam keterangan resminya, HMI Cabang Nunukan menegaskan bahwa peristiwa kelam itu tidak boleh dilupakan. Bagi mereka, September Hitam bukan sekadar momentum mengenang, melainkan seruan moral untuk terus menggugat dan melawan ketidakadilan.

“Negara masih lalai menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Demokrasi hari ini rapuh, hanya dipoles dalam prosedur, tetapi miskin substansi. Kebijakan publik lebih sering menguntungkan segelintir elite, sementara rakyat diabaikan,” tegas pernyataan tersebut.

- Advertisement -
Ad imageAd image

HMI menilai bahwa amarah rakyat yang kini kian memuncak adalah konsekuensi dari pengkhianatan terhadap amanat reformasi. Jika suara mahasiswa dan masyarakat terus dipersempit dengan tindakan represif, mereka meyakini gelombang perlawanan akan semakin meluas.

“Kami menyerukan kepada seluruh elemen bangsa agar tidak pernah lupa: September Hitam adalah pengingat bahwa keadilan tidak bisa ditunda, dan suara rakyat tidak boleh dibungkam. Selama keadilan belum ditegakkan, HMI akan terus berdiri di garda terdepan perjuangan rakyat,” tutup pernyataan HMI Cabang Nunukan.

Kemerdekaan Tanpa Kepalsuan
Ibu Sehat Bahagia, Keluarga Tangguh: Dari Rahim Kesadaran Lahir Ketahanan Bangsa
Mengungkap Ilusi di Balik Angka PAD Nunukan dan Panggilan untuk Revolusi Ekonomi Maritim
PC IMM Tarakan: Smart City, Implementasi Atau Imajinasi
Wacana Bansos Korban Terdampak Judol, Bukti Tak Semua Kebijakan Harus Bijak
Share This Article
Facebook Email Print
2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?