By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Aparat Dianggap Berlebihan Soal Bakar Ban, Tapi Bungkam Terkait Intel yang Sebabkan Mahasiswa Terbakar
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Kaltara

Aparat Dianggap Berlebihan Soal Bakar Ban, Tapi Bungkam Terkait Intel yang Sebabkan Mahasiswa Terbakar

Redaksi
Last updated: 18 Juli 2025 13:09
Redaksi
Published: 18 Juli 2025
Share
SHARE

TARAKAN – Sikap aparat keamanan yang mempertanyakan aksi pembakaran ban dalam demonstrasi kembali menuai kecaman dari kalangan mahasiswa. Pernyataan tersebut dianggap lebay dan tidak relevan, apalagi di tengah situasi serius di mana tiga mahasiswa mengalami luka bakar akibat tindakan sembrono dari oknum intel aparat yang menyusup ke dalam massa aksi.

Insiden terjadi saat seorang oknum intel berusaha merampas bensin yang dibawa peserta aksi. Dalam kekacauan itu, bensin tumpah dan menyambar api hingga membakar mahasiswa. Aksi yang dimaksud terjadi dalam rangka menyuarakan berbagai tuntutan terhadap penegakan hukum dan reformasi institusional di Kalimantan Utara.

“Apa fungsi intel menyusup ke massa aksi jika justru menyebabkan kekacauan dan korban?” tegas Heris, Ketua Wilayah Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kalimantan Utara.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Menurut Heris, pembakaran ban dalam aksi bukan tindakan anarkis, melainkan simbol aksi yang sah sebagai ekspresi kemarahan rakyat. “Orasi saja tidak cukup. Dalam praktik gerakan massa, simbol seperti bakar ban adalah cara untuk menarik perhatian publik dan media. Kalau tidak, suara mahasiswa hanya jadi angin lalu,” ujarnya.

Heris menilai fokus aparat yang justru mempermasalahkan hal-hal teknis seperti pembakaran ban adalah bentuk pengalihan isu dan pembelokan dari substansi tuntutan.

“Kenapa aparat tidak fokus pada penyebab utama mahasiswa terbakar? Kenapa tidak mengusut oknum intel yang merampas bensin? Ini bukan hanya kelalaian, ini bentuk kekerasan struktural yang harus dipertanggungjawabkan,” tambahnya.

LMND Kalimantan Utara mengecam keras tindakan represif aparat dan mendesak agar proses hukum dilakukan terhadap oknum yang terlibat, serta menuntut adanya evaluasi total terhadap pola pengamanan aksi mahasiswa di wilayah ini.

“Jika nyawa mahasiswa dianggap murah dan simbol perjuangan dianggap ancaman, maka yang rusak bukan aksinya, tapi sistemnya,” pungkas Heris.

Gubernur Buka Kejuaraan Panahan Bulungan Series 2026, Dorong Lahirnya Atlet Berprestasi
Suarakan Kesejahteraan Perawat, DPW PPNI Kaltara Temui Gubernur Zainal
Forum JFAK Kaltara Didorong Jadi Wadah Penguatan Kebijakan Pembangunan Daerah
DKISP Sosialisasikan Pemanfaatan Website KIM.ID dan AI Generatif
PON XXI 2024; Barongsai Kaltara Rebut Medali Perunggu pada Nomor Kecepatan
Share This Article
Facebook Email Print
4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?