Efisiensi Anggaran: Ketika Rasa Kemanusiaan Dibuang di Pinggir Jalan By : Akal Sehat dari Pedalaman Kaltara..??!!!

Redaksi

OPINI – Dalam Upaya Meningkatkan Efisiensi Anggaran, Seringkali Kita Lupa Bahwa ada Nilai-nilai Kemanusiaan yang Harus Dijunjung Tinggi. Efisiensi Anggaran Memang Penting, Tetapi tidak Seharusnya dilakukan Dengan Mengorbankan rasa Kemanusiaan.

Ketika kita Berbicara tentang Efisiensi Anggaran, kita harus mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Apakah anggaran yang efisien tersebut dapat meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat ataukah malah memperburuk kondisi mereka? Apakah kita telah mempertimbangkan kebutuhan dasar Masyarakat ataukah hanya berfokus pada angka-angka?

Prioritas anggaran haruslah tepat dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jika kita memprioritaskan efisiensi anggaran tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, maka kita telah gagal dalam menjalankan tanggung jawab kita sebagai pemimpin. Kita harus memastikan bahwa anggaran yang kita buat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak memperburuk kondisi mereka.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dalam pengambilan keputusan, kita harus mempertimbangkan rasa kemanusiaan. Apakah keputusan yang kita buat dapat membantu masyarakat ataukah malah memperburuk kondisi mereka? Kita harus memastikan bahwa keputusan yang kita buat dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak memperburuk kondisi mereka.

Suara Hati dari Pedalaman Kalimantan Utara..??!!!

Di tengah gegap gempita pembangunan yang digembar-gemborkan setiap tahun, jalanan di kampung kami tetap berlumpur, becek, dan mematikan harapan. Infrastruktur jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan, justru menjadi luka menganga yang tak kunjung sembuh. Ketika suara kami menggema ke kancah nasional, yang kami terima hanyalah alasan: “efisiensi anggaran.”

Tapi, apakah efisiensi anggaran harus mengorbankan rasa kemanusiaan?
Apakah manusia seperti kami, yang tinggal di pelosok negeri, tak lagi pantas mendapat perhatian?

Kami paham, negara ini punya banyak kebutuhan. Tapi tidakkah ada skala prioritas yang berpihak pada kehidupan? Jalan berlumpur ini telah lama menjadi saksi bagaimana pejuagan kami untuk sejahtera.

Kami sudah putus asa. Berapa tahun lagi kami harus menunggu, berapa musim hujan lagi yang harus kami lalui dengan lumpur hingga lutut.?

Sampai kapan kami harus membayar harga dari kebejatan segelintir koruptor yang mencuri hak kami?

Jangan jadikan kami tumbal dari sistem yang rusak, Jangan biarkan anak-anak kami tumbuh dalam genangan lumpur dan genangan keputusasaan, Kami hanya ingin satu hal.!! Jalan yang layak untuk dilalui.

“Jika Suara Kami Masih tak di Dengar, Barangkali Bukan Karena Telinga Para Pemimpin Tuli — tapi Karena Hati Mereka Telah Mati.”Suara Hati’

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan