By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Harga TBS Sawit Anjlok, DPD RI Desak Pemerintah Ambil Tindakan
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraParlementer

Harga TBS Sawit Anjlok, DPD RI Desak Pemerintah Ambil Tindakan

Redaksi
Last updated: 7 Juli 2022 21:52
Redaksi
Published: 6 Juli 2022
Share
SHARE

Anjloknya harga tandan buah sawit (TBS) secara nasional, menjadi keresahan yang dirasakan oleh para petani kelapa sawit di perbatasan RI–Malaysia terutama di wilayah komoditi sawit seperti Kalimantan Utara.

Berbagai aspirasi yang disampaikan oleh Petani Sawit di Kalimantan Utara mengeluhkan permasalahan terhadap kebijakan pemerintah yang diambil.

Merespon situasi yang demikian, Anggota DPD RI, Hasan Basri menyampaikan secara langsung kepada Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian untuk mengambil langkah preventif untuk menyelamatkan petani yang terdampak akibat TBS Sawit anjlok saat ini.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“kita meminta kepada Pemerintah sebelum menerapkan kebijakan, untuk menghitung betul berapa harga keekonomian minyak sawit ini,” Katanya.

Dirinya menyampaikan, harga TBS kelapa sawit di Kalimantan Utara saat ini berkisar Rp 800 per kg. Sementara itu, harga TBS petani sawit di Malaysia berkisar Rp 4.500 per kg.

Senator asal Kalimantan Utara ini menilai langkah yang dilakukan para petani jual TBS Kelapa sawit ke Malaysia itu mestinya tidak dilarang. Sebab, harga TBS kelapa sawit di dalam negeri merugikan para petani.

“Pemerintah dalam hal ini Kementerian terkait harus segera menyelamatkan para petani ini, harus bertanggung jawab atas kerugian petani, ini tidak lepas dari efek kebijakan yang diambil,” katanya, Rabu (5/7).

Hasan Basri menilai dengan adanya percepatan ekspor TBS kelapa sawit maupun minyak goreng akan kembali stabil.

“Kebijakan kemarin nggak tepat, jadi berdampaklah ke sana. Makanya ekspor semacam ini seharusnya dipercepat kembali. Harus segera diawasi dengan baik, sehingga petani tidak menjadi korban. Terkhusus kita di Kalimantan Utara yang juga merupakan penghasil sawit,” pungkasnya.

Menanggapi apa yang disampaikan oleh Hasan Basri, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, Andi Nur Alam Syah akan segera menindaklanjuti hasil aspirasi tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Hasan Basri menyampaikan untuk menormalkan kembali harga TBS sawit, pemerintah juga dapat mengatasi over supply minyak sawit mentah atau CPO saat ini dengan memanfaatkan stok CPO yang berlebih untuk campuran bahan bakar B30.

Hasan Basri yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua PURT DPD RI juga meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk mengawasi perusahaan agar tidak membeli TBS sawit dengan harga yang sesuai keinginan perusahaan.

“Harus ada pertemuan tripartite antara perusahaan, petani, pemerintah sehingga ada titik temu solusi bagi anjloknya harga,” kata dia.

Hasan Basri menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat harga TBS sawit anjlok saat ini. Salah satunya akibat harga CPO global yang mengalami penurunan sehingga berdampak pada harga pembelian oleh perusahaan.

Kemudian, turunnya harga TBS sawit merupakan dampak bola salju dari kebijakan-kebijakan sebelumnya.

“Banyak pabrik CPO yang over supply, sehingga harga anjlok di tingkat petani, karena rendahnya daya serap pabrik untuk membeli TBS,” tutupnya.

APBD Terbatas, Pemprov Kaltara Fokus Program Prioritas di 2027
Ditetapkan Naik, Komite III DPD-RI Apresiasi Keputusan Pemerintah
Wajah Baru Lapangan Tenis Ahmad Yani, Gubernur Zainal Dorong Lahirnya Atlet Berprestasi
Gubernur Hadiri Pelantikan Lembaga Adat Dayak Tenggalan
Temui Anak Terdampak Covid-19, Mensos Salurkan Santunan
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?