Nunukan – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Nunukan menilai September sebagai bulan yang sarat luka sejarah bangsa. Dari tragedi 1965, Tanjung Priok, Talangsari, Trisakti, Semanggi, hingga Kendari—semuanya meninggalkan jejak darah mahasiswa dan rakyat, yang menjadi saksi bisu praktik kekuasaan yang dinilai sewenang-wenang.
Dalam keterangan resminya, HMI Cabang Nunukan menegaskan bahwa peristiwa kelam itu tidak boleh dilupakan. Bagi mereka, September Hitam bukan sekadar momentum mengenang, melainkan seruan moral untuk terus menggugat dan melawan ketidakadilan.
“Negara masih lalai menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Demokrasi hari ini rapuh, hanya dipoles dalam prosedur, tetapi miskin substansi. Kebijakan publik lebih sering menguntungkan segelintir elite, sementara rakyat diabaikan,” tegas pernyataan tersebut.
HMI menilai bahwa amarah rakyat yang kini kian memuncak adalah konsekuensi dari pengkhianatan terhadap amanat reformasi. Jika suara mahasiswa dan masyarakat terus dipersempit dengan tindakan represif, mereka meyakini gelombang perlawanan akan semakin meluas.
“Kami menyerukan kepada seluruh elemen bangsa agar tidak pernah lupa: September Hitam adalah pengingat bahwa keadilan tidak bisa ditunda, dan suara rakyat tidak boleh dibungkam. Selama keadilan belum ditegakkan, HMI akan terus berdiri di garda terdepan perjuangan rakyat,” tutup pernyataan HMI Cabang Nunukan.




