Rumput Laut Kaltara dan Jalan Menuju Perikanan Cerdas

Redaksi

Oleh:

Prof. Ir. Tole Sutikno, Ph.D., ASEAN Eng.
Guru Besar S3 Informatika, Universitas Ahmad Dahlan
Borneonewsjournalist.co.id – Bentangan tali rumput laut di perairan Nunukan, Sebatik, Tarakan hingga sebagian wilayah Bulungan menjadi pemandangan rutin setiap pagi. Aktivitas tersebut mencerminkan kerja keras ribuan keluarga pesisir Kalimantan Utara yang menggantungkan hidup pada komoditas rumput laut, salah satu sektor perikanan yang dikenal ramah lingkungan dan memiliki pasar luas, mulai dari industri pangan hingga kosmetik dan farmasi.

Meski memiliki potensi besar, kesejahteraan pembudidaya rumput laut di Kalimantan Utara dinilai belum mengalami peningkatan signifikan. Guru Besar Program Doktor Informatika Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Ir. Tole Sutikno, Ph.D., ASEAN Eng., menilai persoalan utama bukan terletak pada etos kerja pembudidaya, melainkan pada tantangan alam dan sistem pengelolaan yang belum adaptif.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Pembudidaya rumput laut di Kaltara sudah berpengalaman dan ulet. Tantangan terbesarnya justru datang dari perubahan cuaca yang sulit diprediksi, kualitas air yang fluktuatif, serta serangan penyakit yang kerap terjadi secara tiba-tiba,” ujarnya.

Kondisi tersebut tidak jarang menyebabkan pertumbuhan rumput laut terganggu hingga gagal panen. Dampaknya, harga jual menurun dan kerugian harus ditanggung langsung oleh pembudidaya. Selama ini, sebagian besar keputusan budidaya masih bertumpu pada pengalaman dan kebiasaan turun-temurun. Pendekatan tersebut dinilai semakin berisiko di tengah dinamika lingkungan pesisir yang terus berubah.

Menurut Prof. Tole, kondisi ini menegaskan pentingnya penerapan konsep perikanan cerdas. Konsep tersebut tidak selalu identik dengan teknologi mahal atau rumit, melainkan pemanfaatan informasi sederhana namun akurat untuk membantu pembudidaya mengambil keputusan yang lebih tepat.

Dalam budidaya rumput laut, faktor seperti suhu air, salinitas, dan kejernihan perairan sangat menentukan hasil produksi. Selama ini, perubahan kondisi perairan sering baru disadari setelah rumput laut terserang penyakit. Dengan dukungan pemantauan sederhana, pembudidaya dapat mengantisipasi lebih awal, misalnya dengan menyesuaikan waktu tanam dan panen untuk menekan risiko kerugian.

Pendekatan berbasis data juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir. Rumput laut hanya tumbuh optimal di perairan yang sehat. Pemantauan kondisi perairan secara bersama dapat menjadi dasar pengelolaan ruang laut yang lebih adil dan berkelanjutan, sekaligus meminimalkan konflik pemanfaatan wilayah pesisir.

Namun tantangan rumput laut di Kalimantan Utara tidak hanya terjadi pada fase budidaya. Persoalan serius juga muncul pada tahap pascapanen. Hingga kini, sebagian besar rumput laut masih dipasarkan dalam bentuk mentah. Proses pengeringan yang sangat bergantung pada cuaca serta keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat pembudidaya kerap terpaksa menjual hasil panen dengan harga rendah.

“Perikanan cerdas seharusnya juga menyentuh pascapanen. Teknologi pengeringan sederhana yang lebih stabil, penyimpanan yang layak, hingga pengolahan skala kecil dapat meningkatkan nilai jual rumput laut secara signifikan,” jelasnya.

Selain itu, pemanfaatan sistem digital dinilai dapat memperkuat posisi pembudidaya dan pelaku UMKM pesisir. Keterbukaan informasi harga, pencatatan produksi yang rapi, serta akses pemasaran yang lebih luas akan mengurangi ketergantungan pada tengkulak. Bagi Kalimantan Utara sebagai wilayah perbatasan, penguatan rantai nilai lokal menjadi krusial agar rumput laut tidak hanya menjadi bahan baku murah bagi daerah lain.

Prof. Tole menilai kebijakan pengembangan rumput laut selama ini masih cenderung bersifat parsial. Bantuan alat dan bibit memang diperlukan, namun tanpa pendampingan berkelanjutan dan sistem yang berjalan, dampaknya sering tidak bertahan lama. Digitalisasi pun kerap dimaknai sebatas pengadaan aplikasi, bukan pembangunan sistem yang benar-benar digunakan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ke depan, pemerintah daerah didorong untuk menjadikan pengembangan rumput laut sebagai bagian dari strategi pembangunan perikanan jangka menengah dan panjang. Proyek percontohan perikanan cerdas di sentra rumput laut seperti Nunukan dan Sebatik dinilai perlu segera diwujudkan, disertai pendampingan yang konsisten dan target yang terukur.

Perguruan tinggi dan lembaga riset juga diharapkan hadir lebih dekat dengan pembudidaya, membawa solusi yang sederhana dan aplikatif. Sementara itu, pembudidaya tetap harus ditempatkan sebagai pelaku utama, dengan pengetahuan lokal sebagai modal penting yang perlu diperkuat, bukan digantikan oleh teknologi.

“Rumput laut Kaltara adalah peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. Jalan menuju perikanan cerdas memang tidak instan, tetapi harus mulai ditempuh sekarang agar sektor ini benar-benar menjadi fondasi ekonomi pesisir yang kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya.(****)

Share This Article