Saatnya Kaltara Membangun Smart Perikanan | Oleh: Prof. Ir. Tole Sutikno, Ph.D., ASEAN Eng. Guru Besar S3 Informatika, Universitas Ahmad Dahlan

Redaksi

Borneonewsjournalist.co.id – Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai provinsi muda memiliki potensi sumber daya laut yang sangat besar. Wilayah pesisir yang membentang dari Tarakan, Nunukan, Sebatik hingga Bulungan menjadi tumpuan hidup ribuan nelayan dan pelaku usaha perikanan skala kecil. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, sektor perikanan dan kelautan masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi daerah, baik dari kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) maupun penyerapan tenaga kerja di wilayah pesisir. Namun demikian, besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan nelayan.

Produktivitas perikanan masih bersifat fluktuatif, nilai tambah hasil tangkapan relatif rendah, serta ketergantungan terhadap faktor alam masih sangat tinggi. Di wilayah Tarakan, nelayan skala kecil masih sangat bergantung pada kondisi cuaca harian. Ketika angin kencang dan gelombang tinggi datang secara mendadak, aktivitas melaut terpaksa dihentikan dan pendapatan nelayan pun langsung terdampak. Informasi cuaca sebenarnya tersedia, tetapi belum terintegrasi dan belum sepenuhnya mudah diakses oleh nelayan.

Kondisi serupa juga dialami nelayan di Nunukan dan Sebatik, wilayah perbatasan yang memiliki potensi besar perikanan tangkap dan budidaya, namun masih menghadapi keterbatasan akses dan infrastruktur. Banyak nelayan masih melaut dengan peralatan sederhana serta minim dukungan informasi. Situasi ini menunjukkan perlunya pendekatan baru dalam pengelolaan sektor perikanan di Kaltara, tanpa meninggalkan kearifan lokal, tetapi justru memperkuatnya melalui pemanfaatan data dan teknologi yang adaptif. Konsep smart perikanan dinilai menjadi salah satu solusi yang relevan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Smart perikanan bukan semata penggunaan teknologi canggih, melainkan pemanfaatan teknologi tepat guna untuk membantu nelayan dan pembudidaya mengambil keputusan yang lebih baik, mulai dari menentukan waktu melaut, membaca kondisi gelombang, hingga menentukan waktu panen. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi membuat keputusan berbasis pengalaman saja menjadi semakin berisiko. Sistem informasi cuaca dan gelombang yang sederhana, terintegrasi, dan disebarkan secara konsisten dinilai mampu meningkatkan keselamatan nelayan sekaligus efisiensi usaha perikanan.

Pada sektor budidaya, pembudidaya rumput laut di Sebatik dan pesisir Nunukan juga menghadapi tantangan serupa. Komoditas unggulan ini sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air dan suhu. Data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara menunjukkan produksi rumput laut masih berfluktuasi tajam dari tahun ke tahun. Melalui pendekatan smart perikanan, pemantauan kondisi perairan secara berkala dapat dilakukan sehingga langkah pencegahan terhadap potensi gagal panen bisa diambil lebih dini.

Persoalan perikanan Kaltara tidak hanya berhenti pada aktivitas di laut, tetapi juga pada tahap pascapanen dan rantai nilai. Di Tarakan, sebagian besar hasil tangkapan masih dijual dalam kondisi segar tanpa pengolahan, sehingga nilai tambah justru dinikmati di luar daerah. Sementara di Nunukan dan Sebatik, keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin dan logistik membuat nelayan serta UMKM pesisir sulit menembus pasar yang lebih luas.

Oleh karena itu, smart perikanan perlu dipahami secara menyeluruh, tidak hanya menyentuh aspek produksi, tetapi juga penguatan pascapanen dan UMKM pesisir. Pemanfaatan teknologi sederhana untuk pencatatan produksi, penyimpanan dingin skala kecil, pengolahan, hingga pemasaran digital dinilai mampu meningkatkan daya saing dan posisi tawar nelayan.

Sayangnya, kebijakan perikanan daerah selama ini masih cenderung parsial dan berorientasi proyek. Bantuan alat kerap tidak diiringi pendampingan berkelanjutan, sementara digitalisasi sering dimaknai sebatas pengadaan aplikasi tanpa membangun ekosistem yang utuh.

Pemerintah daerah didorong untuk melakukan koreksi kebijakan dengan memasukkan smart perikanan ke dalam perencanaan pembangunan daerah secara terintegrasi. Selain itu, solusi yang diterapkan harus sederhana, terjangkau, dan sesuai dengan karakter wilayah kepulauan dan perbatasan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, DKP, perguruan tinggi, komunitas nelayan, serta UMKM pesisir juga menjadi kunci agar teknologi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

Perguruan tinggi dan lembaga riset diharapkan dapat mendorong riset terapan yang langsung diuji di wilayah pesisir Kaltara. Nelayan dan pembudidaya harus ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar objek program.

Kaltara kini berada pada titik penting dalam perjalanan pembangunannya. Jika sektor perikanan ingin benar-benar menjadi pilar ekonomi daerah yang berkelanjutan, perubahan pendekatan tidak bisa ditunda. Pembangunan smart perikanan yang bertahap, realistis, dan berpihak pada nelayan menjadi langkah strategis demi menjaga laut tetap lestari dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.(****)

Share This Article