NUNUKAN, KALTARA – Desa Srinanti, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, berpeluang dikembangkan menjadi desa wisata berkelanjutan berbasis ekowisata mangrove. Upaya tersebut didorong melalui kegiatan survei dan pemetaan kawasan mangrove yang dilakukan oleh civitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Brawijaya (UB) dalam program Desa Binaan ITB.
Desa Srinanti merupakan desa perbatasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan termasuk wilayah terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa hasil pemekaran tahun 2012 ini memiliki kawasan mangrove alami yang luas, meski masih menghadapi tantangan keterbatasan aksesibilitas dan fasilitas dasar, dengan sebagian besar kebutuhan masyarakat bergantung pada Ibu Kota Kabupaten Nunukan yang terpisah oleh laut.
Melihat besarnya potensi tersebut, ITB melalui Tim Pengabdian Masyarakat Desanesha ITB menggagas program pengembangan Desa Srinanti sebagai desa mandiri dan berdaya saing, sekaligus memperkuat ketahanan wilayah perbatasan. Program ini didukung oleh tim dosen lintas disiplin, di antaranya Dr. Prima Roza, S.E., M.Ed.Admin. (FSRD ITB), Miga Magenika Julian, serta Esa Fajar Hidayat, S.Kel., M.Si. dari Universitas Brawijaya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan selama lima hari, pada 5–9 Januari 2026, dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai mitra aktif dalam seluruh tahapan kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga perencanaan solusi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) pengembangan ekowisata mangrove yang diikuti sekitar 30 peserta, terdiri atas tokoh masyarakat, pemerintah desa dan kecamatan, nelayan, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), Karang Taruna, guru, mahasiswa KKN Universitas Borneo Tarakan, serta pemangku kepentingan lainnya. Diskusi difokuskan pada penentuan dan penyepakatan wilayah pengelolaan mangrove desa guna menghindari tumpang tindih pengelolaan.
Dalam FGD tersebut, tim pengabdian membawa peta kawasan Desa Srinanti untuk dilakukan penandaan langsung wilayah pengelolaan mangrove. Peta hasil kesepakatan kemudian ditandatangani oleh para pemangku kepentingan sebagai bentuk persetujuan bersama.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan survei susur mangrove menggunakan kapal tingting sepanjang kurang lebih 16 kilometer di kawasan hutan desa. Survei ini mencakup geotagging spesies mangrove, pendataan biodiversitas seperti habitat bekantan dan burung, serta pengumpulan data untuk perhitungan biomassa mangrove dan potensi penyerapan karbon, khususnya pada kawasan mangrove primer.
Seluruh data hasil survei direncanakan akan diintegrasikan ke dalam Portal WebGIS Srinanti yang dikembangkan oleh tim, termasuk peta karbon dan rencana rute susur mangrove. Data ini juga menjadi dasar penilaian potensi rute ekowisata dan titik-titik pengamatan biodiversitas.
Selain itu, tim juga melakukan pendataan dan geotagging fasilitas penunjang pariwisata, seperti penginapan, rumah makan, tempat ibadah, sekolah, dan fasilitas umum lainnya. Kegiatan ini didukung oleh pemetaan foto udara yang dilakukan mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika ITB sebagai data spasial pendukung pengembangan kawasan wisata.
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat, tim pengabdian masyarakat turut menggelar pelatihan pembuatan konten digital bagi warga, khususnya pemuda desa. Pelatihan ini meliputi teknik dasar fotografi dan videografi, pembuatan video promosi, hingga proses penyuntingan konten untuk mendukung promosi ekowisata mangrove secara mandiri.
Kepala Desa Srinanti, Rusmini, menyampaikan dukungan penuh terhadap program tersebut. Ia menyebut Desa Srinanti memiliki kawasan mangrove terbesar di Kecamatan Sei Menggaris, sehingga berpotensi besar dikembangkan sebagai destinasi ekowisata.
“Potensi ekowisata mangrove di Desa Srinanti sangat besar dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal menuju desa yang mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Senada dengan itu, perwakilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Srinanti, Rici Sugianto, menekankan pentingnya kolaborasi dan kesiapan fasilitas pendukung. Menurutnya, pengembangan ekowisata tidak hanya bergantung pada potensi alam, tetapi juga pada keterlibatan aktif masyarakat dan pembangunan sarana pendukung secara bertahap.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Desa Srinanti diharapkan memiliki dasar pengembangan ekowisata mangrove yang berkelanjutan, berbasis data, dan partisipatif. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas lokal, memperkuat perekonomian desa, sekaligus mendukung pelestarian lingkungan dan ketahanan wilayah perbatasan negara.(****)




