Yogyakarta, 23 Agustus 2025 – Isu kekerasan seksual di perguruan tinggi kembali menjadi perhatian serius dalam gelaran Townhall Muda Yogyakarta yang berlangsung di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta. Kegiatan ini diinisiasi Forum Inklusi Sosial bersama sembilan finalis muda 30 Townhall Muda.id yang mewakili berbagai komunitas dan organisasi sosial.

Yogyakarta dipilih sebagai tuan rumah karena dikenal sebagai kota pelajar dan cermin dinamika pendidikan tinggi di Indonesia. Meski pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) sejak 2021, data menunjukkan angka kasus masih meningkat dalam lima tahun terakhir.
Townhall Muda Yogyakarta menekankan tiga luaran utama, yakni:
1. Rencana tindak lanjut bersama Dinas P3AP2 DIY,
2. Rekomendasi kebijakan penguatan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual,
3. Penandatanganan komitmen lintas sektor sebagai wujud kolaborasi berkelanjutan.
Rangkaian acara diisi dengan audiensi bersama Dinas P3AP2 DIY, pameran praktik baik komunitas, pemutaran film dokumenter, seminar nasional, diskusi panel lintas sektor, FGD multistakeholder, hingga penampilan seni.
Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya:
Rachmeilia Daniastri, Auditor Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi,
Erlina Hidayati Sumardi, Kepala Dinas P3AP2 DIY,
Suharti Mukhlas, Gender Specialist sekaligus Executive Secretary UNU Yogyakarta,
Halimah Ginting, Sekretaris Wilayah DIY Koalisi Perempuan Indonesia.
Tak hanya dari pemerintah dan akademisi, acara juga melibatkan aktivis, perwakilan BEM universitas, UMKM lokal, juru bahasa isyarat, komunitas masyarakat, hingga Satgas PPKS dari berbagai kampus di Yogyakarta.
Dalam sambutannya, Erlina Hidayati menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor. “Upaya sudah banyak dilakukan, yang diperlukan adalah sinergi bersama untuk membantu, mengawal, dan menjalankan sesuai aturan yang berlaku. Dinas P3AP2 DIY siap mendampingi korban sekaligus membuka akses pengaduan bagi civitas akademika,” ujarnya.
Sementara itu, Halimah Ginting dari Koalisi Perempuan Indonesia menekankan urgensi keberanian memperjuangkan keadilan. “Kami sering menerima aduan dari korban. Persoalan ini harus diperjuangkan bersama, karena kampus seharusnya menjadi ruang aman, bukan tempat membungkam suara mahasiswa,” ungkapnya.
Penyelenggara berharap kegiatan ini menjadi momentum bagi kampus di Indonesia, khususnya Yogyakarta, untuk memastikan pendidikan tinggi bebas dari kekerasan seksual, sekaligus ruang yang aman bagi mahasiswa dalam meraih mimpi dan cita-cita.




