81 Tahun Menunggu Kemerdekaan, Sudahkah Rakyat Benar-Benar Merasakannya? Oleh : Muhammad, S.Kom., M.Kom., Akademisi di Kota Tarakan

Redaksi

TARAKAN – Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan pada 17 Agustus 2026. Momentum tersebut tidak hanya menjadi waktu untuk mengenang Proklamasi Kemerdekaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi mengenai sejauh mana kemerdekaan telah benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Gagasan tersebut disampaikan Muhammad, S.Kom., M.Kom., akademisi di Kota Tarakan, melalui refleksinya bertajuk “81 Tahun Menunggu Kemerdekaan”.

Menurutnya, 81 tahun merupakan waktu yang panjang. Tiga generasi telah lahir setelah Proklamasi 17 Agustus 1945. Indonesia juga telah mengalami berbagai kemajuan, mulai dari pembangunan infrastruktur, perkembangan teknologi, pendidikan, kesehatan hingga pertumbuhan ekonomi.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Namun, kemerdekaan menurutnya tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi maupun megahnya pembangunan.

“Pertanyaan hari ini bukan lagi apakah Indonesia sudah merdeka, tetapi siapa saja yang sampai sekarang masih harus menunggu untuk benar-benar merasakan kemerdekaan,” tulis Muhammad dalam refleksinya.

Ia menilai wajah kemerdekaan seharusnya dapat dilihat dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Misalnya, apakah anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama mendapatkan pendidikan berkualitas, apakah lulusan pendidikan dapat memperoleh pekerjaan layak, serta apakah petani, nelayan dan pekerja mampu hidup sejahtera dari pekerjaannya.

Selain itu, pemerataan pelayanan kesehatan dan akses pembangunan di daerah juga menjadi bagian penting dalam melihat makna kemerdekaan.

Menurut Muhammad, mempertanyakan kondisi tersebut bukan berarti tidak mensyukuri kemerdekaan. Sebaliknya, keberanian melihat berbagai persoalan secara objektif merupakan bagian dari kecintaan terhadap Indonesia.

Ia menyoroti bahwa tantangan Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan penciptaan lapangan pekerjaan, tetapi juga bagaimana menghadirkan pekerjaan yang berkualitas dan produktif. Kelompok masyarakat yang rentan secara ekonomi juga masih menghadapi risiko kembali jatuh miskin ketika menghadapi guncangan, seperti kehilangan pekerjaan, bencana maupun krisis ekonomi.

Karena itu, menurutnya, perjuangan kemerdekaan generasi saat ini telah mengalami perubahan bentuk.

Jika dahulu perjuangan dilakukan untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, kini perjuangan tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan martabat manusia Indonesia.

Pemerintah, kata dia, memiliki tanggung jawab menghadirkan kebijakan yang adil, pelayanan publik berkualitas, pendidikan yang merata, lapangan kerja yang layak serta pembangunan yang tidak meninggalkan kelompok masyarakat tertentu.

“ Kekuasaan bukan sekadar kewenangan untuk mengatur, tetapi amanah untuk memastikan negara hadir bagi mereka yang paling membutuhkan,” tegasnya.

Dunia Usaha dan Kampus Punya Peran

Muhammad juga menekankan pentingnya peran dunia usaha dalam mengisi kemerdekaan. Menurutnya, investasi tidak semata-mata harus berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan produktivitas, memperkuat UMKM dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, perguruan tinggi dinilai tidak boleh hanya berorientasi menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah.

Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan, inovasi dan solusi terhadap persoalan bangsa. Pengetahuan yang dihasilkan akademisi diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

Ia juga mengingatkan peran media, organisasi masyarakat, tokoh agama, guru dan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kualitas kehidupan berbangsa.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan kritik yang membangun, kebebasan yang bertanggung jawab serta pembangunan yang manusiawi.

Di sisi lain, integritas menjadi salah satu aspek penting dalam memastikan kemerdekaan benar-benar memberikan manfaat bagi rakyat.

Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, kolusi, nepotisme dan berbagai bentuk ketidakjujuran dinilai tidak hanya menjadi persoalan hukum. Praktik tersebut pada akhirnya dapat merampas hak masyarakat terhadap pendidikan, pelayanan publik, kesempatan ekonomi dan masa depan yang lebih baik.

Kemerdekaan Adalah Tanggung Jawab Bersama

Muhammad mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap kemerdekaan. Tidak hanya bertanya mengenai apa yang telah diberikan negara kepada masyarakat, tetapi juga mempertanyakan kontribusi masing-masing terhadap bangsa.

Guru memberikan ilmu, dosen menghasilkan pengetahuan, pengusaha membuka lapangan pekerjaan, petani menyediakan pangan, pekerja menggerakkan roda ekonomi, sementara pejabat memiliki tanggung jawab menjaga amanah.

Mahasiswa juga memiliki peran dengan mempersiapkan diri menjadi generasi penerus. Bahkan, menurutnya, tindakan sederhana seperti bersikap jujur, menaati aturan, menjaga lingkungan, menghormati sesama dan tidak menyebarkan kebencian merupakan bentuk kontribusi terhadap kehidupan bangsa.

Ia menegaskan, kemerdekaan bukan pekerjaan satu kelompok, melainkan proyek bersama seluruh masyarakat Indonesia.

Karena itu, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI seharusnya tidak berhenti pada upacara, perlombaan, pengibaran bendera maupun berbagai slogan kebangsaan.

Setelah perayaan berakhir, masih terdapat pekerjaan besar yang harus dilakukan. Masih ada anak yang membutuhkan akses pendidikan, keluarga yang membutuhkan pekerjaan, daerah yang membutuhkan pembangunan, petani dan nelayan yang perlu diperkuat serta generasi muda yang membutuhkan ruang untuk berkembang.

“Mereka bukan sekadar angka dalam statistik pembangunan. Mereka adalah alasan mengapa Indonesia harus terus berjuang,” tulisnya.

Pada momentum 17 Agustus 2026, masyarakat diajak tidak memandang kemerdekaan sebagai sesuatu yang telah selesai. Kemerdekaan merupakan perjalanan panjang untuk memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang adil untuk hidup, belajar, bekerja, memperoleh martabat dan menatap masa depan dengan harapan.

Menurut Muhammad, selama masih ada rakyat yang belum merasakan keadilan, anak yang kehilangan kesempatan karena kemiskinan, generasi muda yang kehilangan harapan serta praktik ketidakjujuran yang mengorbankan kepentingan masyarakat, maka perjuangan kemerdekaan belum sepenuhnya selesai.

“Ukuran terbesar dari sebuah kemerdekaan bukanlah seberapa meriah kita merayakannya, tetapi seberapa banyak manusia yang hidup lebih bermartabat karenanya,” pungkasnya.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Merdeka bangsanya, merdeka rakyatnya, merdeka pikirannya, dan merdeka kehidupannya.(****)

Share This Article