By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Dari Ujung Negara, HMI Nunukan Serukan Mahasiswa Berani Mengawasi Pemerintahan
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Kaltara

Dari Ujung Negara, HMI Nunukan Serukan Mahasiswa Berani Mengawasi Pemerintahan

Redaksi
Last updated: 12 September 2026 13:22
Redaksi
Published: 12 September 2026
Share
SHARE

NUNUKAN – Menjadi mahasiswa di wilayah perbatasan bukan sekadar tentang menempuh pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana membaca keadaan dan mengambil peran. Pesan tersebut mengemuka dalam Ngopi Demokrasi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Nunukan dengan tema “Menjadi Mahasiswa di Ujung Negara: Apatis atau Mengawasi?”, Jumat (11/9/2026), di Cafe Pikiboss Nunukan.
‎
‎Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi mahasiswa untuk membicarakan posisi dan tanggung jawab mereka dalam kehidupan demokrasi, khususnya di Kabupaten Nunukan yang berada di wilayah perbatasan Indonesia.
‎
‎Ketua Umum HMI Cabang Nunukan, Andi Baso, mengatakan mahasiswa di daerah perbatasan memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan berbagai realitas sosial, ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, hingga persoalan pembangunan daerah.
‎
‎“Kita berada di ujung negara, tetapi bukan berarti berada di ujung perhatian. Justru mahasiswa harus hadir untuk memastikan persoalan yang terjadi di daerah tidak dianggap biasa dan tidak berlalu tanpa pengawasan,” ujar Andi.
‎
‎Ia menilai sikap apatis menjadi salah satu tantangan yang perlu dilawan oleh mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya mengkritik, tetapi harus memiliki pengetahuan dan keberanian untuk memahami persoalan secara objektif serta menawarkan gagasan yang konstruktif.
‎
‎“Mengawasi bukan berarti selalu mencurigai. Mengawasi adalah bentuk kepedulian. Mahasiswa harus mampu mengkritik dengan ilmu, menyampaikan aspirasi dengan data, dan mengambil sikap dengan tanggung jawab,” katanya.
‎
‎Diskusi juga menekankan bahwa demokrasi tidak berhenti pada pelaksanaan pemilu. Demokrasi membutuhkan partisipasi masyarakat dalam mengawal kebijakan publik, mengawasi penyelenggaraan pemerintahan, serta memastikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
‎
‎Bagi HMI Cabang Nunukan, membangun budaya diskusi menjadi bagian penting dalam membentuk mahasiswa yang memiliki kesadaran sosial dan intelektual. Ruang-ruang seperti Ngopi Demokrasi diharapkan tidak berhenti sebagai forum percakapan, tetapi mampu melahirkan gagasan dan gerakan nyata.
‎
‎Andi menegaskan, mahasiswa harus kembali menyadari fungsi sosialnya sebagai kelompok intelektual yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat.
‎
‎“Kalau mahasiswa memilih diam ketika melihat persoalan di sekitarnya, lalu siapa yang akan bertanya? Kalau mahasiswa tidak peduli dengan daerahnya sendiri, siapa yang akan memastikan suara masyarakat tetap terdengar?”
‎
‎Melalui kegiatan tersebut, HMI Cabang Nunukan menyatakan komitmennya untuk terus membuka ruang-ruang intelektual bagi mahasiswa dan generasi muda di daerah perbatasan.
‎
‎Ngopi Demokrasi menjadi pengingat bahwa berada di ujung negara bukan alasan untuk menjadi apatis. Sebaliknya, dari perbatasan, mahasiswa harus menunjukkan bahwa kesadaran, kritik, dan kepedulian terhadap demokrasi tetap hidup.
‎

Jumlah Penduduk Kota Tarakan Setiap Tahun Alami Pertambahan Signifikan
Tak Diakui Sebagai Ahli Waris, Juliet Perjuangkan Hak atas Hotel Sejahtera Lewat Jalur Hukum
Bangun Berkolaborasi untuk Pembangunan Infrastruktur Kota
PT Yafran Borneo Multimedia Ucapkan Selamat Satu Tahun Kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Malinau Periode Kedua
Momen Safari Ramadan, Gubernur Sampaikan Pesan-pesan Nasionalisme
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?