By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Dialog Lintas Agama di Malinau Hadirkan Toleransi dengan Cara yang Hangat dan Menghibur
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraMalinauRagam

Dialog Lintas Agama di Malinau Hadirkan Toleransi dengan Cara yang Hangat dan Menghibur

Redaksi
Last updated: 24 Oktober 2025 14:38
Redaksi
Published: 24 Oktober 2025
Share
SHARE

Malinau – Suasana Panggung Padan Liu Burung di Malinau, Kalimantan Utara, terasa berbeda pada Kamis (23/10) malam. Panggung yang biasanya menampilkan hiburan dan kebudayaan, kali ini diisi oleh lima pemuka agama sekaligus dalam sesi “ngobrol bareng” yang sarat pesan toleransi.

Acara interaktif yang dimulai pukul 20.42 WITA ini mengusung tema “Kasihi Penciptamu, Kasihi Sesamamu”. Dipandu oleh Kamidia Adisti, diskusi ini bertujuan meningkatkan keharmonisan dan toleransi di Bumi Intimung.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Alih-alih kaku dan serius, dialog lintas iman ini justru berlangsung cair dan penuh canda. Para tokoh agama yang hadir sukses mengocok perut penonton dengan banyolan-banyolan segar.

Mereka adalah Ustadz H. Abey Ghifran, S. Th. I Cht (Islam), Pdt. Marcel Saerang S.E., M.Th (Kristen Protestan), Romo Antonius Antara, Pr (Katolik), Yan Mitha Djaksana (Hindu), dan Bhikkhu Dhamma Subho Mahathera (Buddha).

Pantauan di lokasi, para tokoh agama tampil santai, bahkan kompak mengenakan produk UMKM Malinau, seperti sarung yang dipakai oleh Ustadz Abey Ghifran.

Suasana semakin cair ketika mereka berkelakar ingin membentuk “boy band”. Sontak, seluruh penonton yang hadir tertawa terbahak-bahak.

Candaan tak berhenti di situ. Pdt. Marcel Saerang bahkan melontarkan lelucon soal kehidupan pernikahan para tokoh agama.

“Ustad bisa istri 4, tapi kasihan Bhante dan Romo yang tidak bisa menikah,” celetuknya, yang langsung disambut tawa riuh. Kamis (23/10).

Meski penuh banyolan, pesan utama soal persatuan sebagai Beranda NKRI tersampaikan dengan kuat. Para tokoh agama sepakat bahwa perbedaan keyakinan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan untuk saling membangun dan tolong-menolong.
“Kita adalah satu keluarga, jika satu tersakiti maka semua akan merasakan,” ujar Pdt. Marcel Saerang.

Ustadz Abey Ghifran menambahkan bahwa agama harus menjadi alasan untuk saling membangun.

“Perbedaan untuk saling menjaga. Refleksi malam ini adalah upaya pemimpin untuk saling menghargai kepada sesama,” katanya.

Para pemuka agama juga menekankan bahwa iman sejati harus selaras dengan perbuatan. Romo Antonius Antara menegaskan,

“Iman tanpa perbuatan hasilnya 0. Orang yang mencintai dirinya pasti mencintai orang lain.”

Pesan serupa disampaikan Bhikkhu Dhamma Subho dengan analogi yang unik.

“Iman adalah imun. Orang yang baik, pasti imunitasnya baik. Imun, iman, amin, aman,” tuturnya.

Perwakilan Hindu, Yan Mitha Djaksana, menyoroti konsep Tri Hita Karana, yakni pentingnya menjaga hubungan baik dengan Tuhan, sesama manusia, dan seluruh alam semesta.

“Selain menjaga sesama manusia, (kita juga harus) menjaga seluruh alam semesta,” ujarnya.

Acara mencapai puncaknya saat Ustadz Abey Ghifran mengajak keempat pemuka agama lain beserta Bupati Malinau untuk bergandeng tangan. Ia lalu mengajak seluruh penonton melakukan hal yang sama sebagai simbol persatuan.

“Kebaikan akan memiliki jalan pulang,” seru Ustadz Abey. Saya akan menceritakan kepada dunia jika Malinau dapat menjaga toleransi.” Serunya di hadapan para masyarakat Malinau yang antusias dalam menyaksikan dialog 5 tokoh agama.

Momen haru tersebut ditutup dengan doa bersama dan seluruh hadirin yang memadati Panggung Padan Liu Burung serentak berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Saat ditemui usai acara, Romo Antonius Antara Pr menegaskan kembali pesan bahwa pemimpin, baik di pemerintahan maupun agama, pada hakikatnya adalah pelayan.

“Tuhan mengatakan bahwa kalau kita ingin menjadi yang terbesar, itu kan harus menjadi pelayan bagi semuanya. Saya mengajak kita siapapun yang menjadi pemimpin, menyadari akan tugas tanggung jawab itu sebagai pelayan,” pungkasnya.

KC Bankaltimtara Segera Berkantor di Banhub Kaltara di Jakarta
Komisi III DPRD Kaltara Dorong Kepastian Hak Warga dalam Sengketa Lahan
Perkuat Ekosistem Ekraf, ICCN dan TVRI Kaltara Bersinergi Siapkan Talkshow Menuju WCCE 2026
Gubernur ajak IKA PMII Bersinergi Membangun Kaltara
Masyarakat Dihimbau Lakukan Pengecekan Status Keaktifan JKN Kaltara
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?