By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Diskusi Bersama Pers, Rektor UBT Sebut Profesionalisme Jadi Benteng Hadapi KUHP Baru
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraTarakan

Diskusi Bersama Pers, Rektor UBT Sebut Profesionalisme Jadi Benteng Hadapi KUHP Baru

Redaksi
Last updated: 9 Maret 2026 14:01
Redaksi
Published: 9 Maret 2026
Share
SHARE

TARAKAN, KALTARA – Kekhawatiran sebagian insan pers terhadap keberadaan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baru dinilai tidak perlu disikapi secara berlebihan. Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Borneo Tarakan (UBT), Prof. Dr. Yahya Ahmad Zein, S.H., M.H., saat berdiskusi bersama sejumlah insan pers di Ruang Rapat Rektor, Gedung Rektorat Kampus UBT, Senin (9/3/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Yahya menilai regulasi KUHP baru justru dapat memperjelas perbedaan antara produk jurnalistik profesional dengan konten yang beredar di media sosial.

Menurutnya, selama wartawan menjalankan tugasnya sesuai dengan kode etik jurnalistik dan mekanisme kerja redaksional yang benar, maka Undang-Undang Pers tetap menjadi landasan utama dalam penyelesaian sengketa pemberitaan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“UU Pers itu adalah lex specialis. Jika terjadi persoalan hukum yang bersumber dari produk jurnalistik, maka penyelesaiannya secara prinsip wajib melalui mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Pers, bukan langsung merujuk pada KUHP,” jelas Prof. Yahya.

Ia menjelaskan bahwa secara hukum, pers memiliki perlindungan khusus yang tidak dimiliki oleh individu yang mengunggah konten secara sembarangan di media sosial. Prinsip hukum lex specialis derogat legi generalis menempatkan UU Pers sebagai aturan khusus yang mengatur aktivitas jurnalistik.

Prof. Yahya menilai keberadaan KUHP baru justru menjadi momentum untuk memperjelas batas antara produk pers yang dihasilkan melalui proses jurnalistik dengan konten yang diproduksi tanpa mekanisme profesional.

Ia menegaskan, perlindungan hukum bagi jurnalis hanya berlaku apabila karya yang dihasilkan melalui proses redaksional yang benar. Proses tersebut meliputi pencarian informasi, verifikasi fakta, hingga penyiaran berita kepada publik.

“KUHP ini justru akan memperlihatkan perbedaan yang kontras di ruang publik. Mana yang benar-benar produk jurnalistik dan mana yang bukan,” ungkapnya.

Menurutnya, apabila sebuah konten tidak diproduksi melalui mekanisme jurnalistik yang sah, maka konten tersebut berada di luar perlindungan UU Pers dan dapat langsung dikenakan ketentuan dalam KUHP.

Meski mengakui adanya sejumlah pasal sensitif dalam KUHP baru, seperti pasal penghinaan terhadap lembaga negara dan penyebaran berita bohong, Prof. Yahya tetap optimistis regulasi tersebut tidak akan membatasi ruang gerak pers selama wartawan tetap berpegang pada fakta dan profesionalisme.

Ia juga mengimbau para praktisi media untuk terus menjaga standar kerja jurnalistik serta menjadikan Dewan Pers sebagai lembaga rujukan dalam menjaga kualitas dan integritas pers.

“Sepanjang kawan-kawan pers berpegang pada kode etik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Profesionalisme adalah benteng terbaik dalam menghadapi dinamika hukum yang ada,” pungkasnya.(****)

KNTI Usul Program Sosialisasi Nelayan
Polres Tarakan Ajak Warga Tertib Hukum demi Keamanan dan Ketertiban Bersama
Minta ASN Jaga Netralitas dalam Pemilu 2024
Dari Gedung Gadis 2 hingga KBM, Sekprov Pastikan ASN Tetap Disiplin dan Siap Melayani
TMMD ke-130 Kodim Tarakan Rampungkan Sumur Bor di Kampung Satu Skip, 50 KK Bakal Rasakan Manfaatnya
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?