Game Online dan Algoritma Medsos Jadi Jalur Baru Penyebaran Radikalisme di Kalangan Anak

Redaksi

TARAKAN, KALTARA – Muhammad Najih Arromadlono atau Gus Nadji dari Lakpesdam NU (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama) Republik Indonesia (RI) mengungkapkan bahwa persoalan terorisme saat ini semakin kompleks dan nyata, bahkan telah menyasar kalangan anak-anak melalui media sosial dan platform digital.

Dalam pemaparannya pada dialog publik di Universitas Borneo Tarakan, ia menyebutkan bahwa fenomena radikalisasi tidak lagi terbatas pada mahasiswa atau orang dewasa, melainkan telah menjangkau usia dini.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Terorisme bukan persoalan yang direkayasa. Ini nyata, bahkan sudah masuk ke dunia anak-anak,” tegasnya.

Anak-anak Rentan Terpapar:
Gus Nadji mengungkapkan, pada tahun 2025 tercatat sekitar 110 anak diamankan karena terpapar paham radikal. Menurutnya, media sosial menjadi sarana utama penyebaran ideologi tersebut.

Jika sebelumnya proses doktrinasi dilakukan secara langsung atau melalui jaringan terbatas, kini anak-anak dapat terpapar hanya melalui interaksi di dunia digital.

Ia menjelaskan, algoritma media sosial berperan besar dalam proses tersebut. Anak-anak yang sering mengakses atau menyukai konten kekerasan akan diarahkan ke konten serupa, bahkan direkrut ke dalam kelompok tertutup di platform pesan instan.
Rekrutmen Lewat Game Online
Lebih lanjut, ia menyoroti penggunaan game online seperti Roblox dan Free Fire sebagai media simulasi dan pelatihan.

“Anak-anak tidak perlu lagi pergi ke luar negeri untuk berlatih. Cukup melalui handphone, mereka bisa belajar simulasi perang,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa kasus menunjukkan bahwa anak-anak yang terpapar tidak hanya sebatas konsumsi konten, tetapi sudah merencanakan aksi nyata. Salah satunya adalah rencana penyerangan terhadap kantor polisi di wilayah Bangka Belitung yang melibatkan anak di bawah umur.

Akses Mudah dan Minim Pengawasan
Gus Nadji juga mengungkapkan bahwa akses terhadap materi ekstremisme di internet masih sangat terbuka. Bahkan, panduan pembuatan bahan peledak dapat ditemukan dengan mudah melalui mesin pencari maupun platform digital.

Ia mencontohkan kasus di Malang, di mana seorang anak berhasil merakit bom secara mandiri di rumahnya dengan memanfaatkan informasi dari internet serta bahan yang dibeli melalui platform e-commerce.

“Semua bisa dipelajari secara otodidak. Ini yang menjadi tantangan besar bagi kita,” katanya.

Ancaman “Lone Wolf” dan Lemahnya Dominasi Narasi Moderat.
Fenomena lain yang disoroti adalah munculnya pelaku teror individu atau lone wolf, yang bergerak tanpa jaringan langsung dan hanya terpengaruh oleh interaksi di dunia maya.

Ia juga menilai bahwa kelompok moderat, seperti organisasi keagamaan arus utama, masih kalah dominasi di media sosial dibandingkan kelompok ekstrem.

“Kelompok moderat jumlahnya besar, tetapi kalah aktif di media sosial. Sementara kelompok ekstrem justru lebih agresif menyebarkan narasi,” jelasnya.

Perlu Penguatan Literasi dan Pengawasan
Gus Nadji menegaskan bahwa penguatan literasi digital, wawasan keagamaan, serta pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia maya menjadi kunci dalam mencegah radikalisasi.

Ia mengingatkan bahwa pemahaman agama yang tidak utuh menjadi akar utama munculnya ekstremisme. Oleh karena itu, peran orang tua, pendidik, serta institusi pendidikan sangat penting dalam membentuk pemahaman yang benar.

“Kalau tidak diantisipasi, anak-anak kita bisa terpapar sejak dini tanpa kita sadari,” pungkasnya.

Paparan ini menjadi peringatan bagi semua pihak bahwa ancaman radikalisme kini semakin adaptif, mengikuti perkembangan teknologi, dan memerlukan penanganan yang lebih komprehensif serta kolaboratif.(****)

Share This Article