Inovasi dan Teknologi Dongkrak Produksi, PHI Zona 9 Lampaui Target Migas 2025

Redaksi

BALIKPAPAN, KALTIM – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui entitas anak usaha dan afiliasinya di Zona 9 mencatatkan kinerja positif dengan melampaui target produksi minyak dan gas bumi (migas) tahun 2025. Capaian ini diraih berkat penerapan beragam inovasi dan teknologi di lapangan-lapangan migas yang telah mature atau berumur tua.

Empat entitas yang beroperasi di Zona 9, yakni PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS), PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field, PEP Sangasanga Field, dan PEP Sangatta Field, berhasil membukukan produksi minyak sebesar 22,6 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan produksi gas mencapai 105,369 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kinerja tersebut menempatkan Zona 9 sebagai salah satu kontributor utama produksi PHI di Regional 3 Kalimantan, sekaligus memperkuat peran perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional sejalan dengan Asta Cita Pemerintah Indonesia.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Senior Manager Subsurface Development & Planning (SSDP) Zona 9, Supriady, mengatakan capaian ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam mengoptimalkan pengelolaan lapangan migas dengan karakteristik kompleks melalui strategi yang tepat dan koordinasi lintas fungsi yang solid.

“Kami percaya inovasi dan teknologi memegang peran strategis dalam menjaga tingkat recovery dan keberlanjutan produksi lapangan-lapangan migas yang telah mature,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pekerja dan manajemen dalam mengelola aset subsurface dengan penerapan teknologi yang fit for purpose. Untuk menjaga tren positif, tim Zona 9 mengusung semangat “Anti Decline” atau antipenurunan produksi.

Beragam Inovasi Tingkatkan Produksi
Sejumlah terobosan teknologi diterapkan di berbagai lapangan. PHSS, misalnya, mengimplementasikan inovasi Through Tubing Electric Submersible Pump (TTESP) yang mampu meningkatkan produksi sumur hingga 150 persen. Teknologi ini telah diaplikasikan di empat sumur dan memberikan kontribusi signifikan terhadap produksi minyak.

Selain itu, teknologi Pertasolvent juga diterapkan untuk mengatasi kendala High Pour Point Oil (HPPO), yakni kondisi minyak dengan titik tuang lebih tinggi dibandingkan temperatur operasi pipa. Inovasi ini berhasil meningkatkan produksi sumur hingga hampir empat kali lipat dari kondisi awal dan diterapkan di Lapangan Mutiara dan Pamaguan.

Di sektor gas, PHSS mengaplikasikan teknologi Capillary String yang mampu menekan potensi gangguan aliran serta meningkatkan stabilitas produksi sekitar 0,36 MMSCFD.

Sementara itu, Pertamina EP Sangasanga menerapkan Wellhead Compressor Mini Gas Compressor pada sumur-sumur bertekanan rendah dan beririsan wilayah kerja (borderless). Inovasi ini berhasil meningkatkan produksi hingga 15 kali lipat dibandingkan kondisi awal. Di Lapangan TSS, produksi gas bahkan mencapai 117 persen dari target tahun 2025.

Operasi Terintegrasi dan Budaya Selamat
Keberhasilan produksi juga ditopang percepatan jadwal pengeboran dan intervensi sumur, dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.

“Pendekatan operasional migas yang terintegrasi dan penguatan budaya selamat menjadi fondasi dalam menjaga keberlanjutan kinerja PHSS dan PEP di Zona 9 dalam mendukung ketahanan energi nasional,” tegas Supriady.

PT Pertamina Hulu Indonesia merupakan bagian dari Subholding Upstream Pertamina yang mengelola operasi hulu migas di Regional 3 Kalimantan, meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10. Dalam menjalankan operasionalnya, PHI mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta aktif melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur, dan tanggap bencana untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).(*)

Share This Article