By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Masih Sulit, Pembelian Minyak Goreng Masih Dibatasi
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraPemerintahan

Masih Sulit, Pembelian Minyak Goreng Masih Dibatasi

Redaksi
Last updated: 28 Januari 2022 22:56
Redaksi
Published: 28 Januari 2022
Share
SHARE

TARAKAN – Sejak terjadinya kelangkaan minyak goreng yang membuat harga melambung tinggi, kini kondisi tersebut terus berlanjut dan saat ini pemerintah masih membatasi penjualannya.

Saat dikongirmasi, salah satu pedagang di Pasar Gusher, Abdul Wahid menerangkan ia dan pedagang sembako lainnya mengeluhkan kebijakan pemerintah yang menetapkan harga minyak goreng satu harga Rp14 ribu per liter. Pedagang yang tidak tergabung ke dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) tetap menggunakan harga lama.

“Harganya masih tinggi, soalnya stoknya masih stok lama. Kita jual masih satu liter 19.000 jenis Fortune,”ungkapnya, (29/1/2022).

- Advertisement -
Ad imageAd image

Diketahui, harga minyak goreng Alfamidi dan Ramayana mengikuti standar harga pemerintah. Sehingga atas perbedaan itu membuat minyak goreng yang dijual di pasar sulit terjual.

“Untung kami sekitar seribu rupiah satu kemasan. Dari distributor kan sudah tinggi, 2 liter Rp. 40 ribuan, terus kalau harga Rp 19 ribu untung cuma seribu,” tukasnya.

Saat disinggung soal rencana pemerintah akan menyelaraskan satu harga untuk pedagang minyak di pasaran, Wahid dengan tegas mengatakan dirinya mau jika tidak terjadi kerugian pada pedagang.

“Bisa saja kita ngikuti, asal kita dibayar, kalau tidak kita rugi besar. Karena selisihnya Rp 10 ribu sama yang di Alfamidi dan Ramayana,” tegasnya.

“Kalau kita sih maunya turun, soalnya hampir semua barang naik harganya. Selain itu pembeli berkurang sih, karena ada yang lebih murah tapi di Ramayana sama Alfamidi kan belinya dibatasi,” pungkasnya.

Pekan Pemuda GKII Desa Pimping, Ekonomi Masyarakat Meningkat
Wagub Presentasi dan Wawancara KIPP 2023, Inovasi Pro Lanteraku
Cuaca Tak Menentu Jadi Tantangan TMMD ke-130 Kodim Tarakan
Banjir Dukungan, DPW dan DPD Wahdah Islamiyah Kaltara Berikan Sinyal Menangkan Hasan Basri 2 Periode
Pemprov Kaltara Masih Pelajari Syarat-Syarat PTM
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?