Menggali Kearifan Lokal Kaltara sebagai Solusi Atasi Stunting

Redaksi

Oleh:

Lina Handayani, Ph.D Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Borneonewsjournalist.co.id, OPINI – Stunting masih menjadi tantangan serius di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024, prevalensi stunting nasional berada di angka sekitar 21,5 persen, sementara Kalimantan Utara mencatat angka lebih tinggi, yakni berkisar 24 hingga 25 persen. Kondisi ini menempatkan Kaltara sebagai salah satu daerah dengan beban stunting di atas rata-rata nasional.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Dr. Lina Handayani, menilai persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut akses, budaya, serta tingkat pengetahuan masyarakat. Menurutnya, Kalimantan Utara justru memiliki potensi besar dalam bentuk kearifan lokal yang dapat dioptimalkan untuk menekan angka stunting.
“Kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga modal sosial yang sangat kuat untuk mendukung ketahanan pangan dan perbaikan gizi keluarga,” ujarnya.

Kaltara dikenal kaya akan sumber pangan tradisional berbasis hutan dan laut. Beragam hasil perikanan seperti ikan sungai, udang, kepiting, serta hasil laut dari wilayah Tarakan dan Nunukan merupakan sumber protein yang mudah dijangkau masyarakat. Sementara itu, di wilayah pedalaman, masyarakat Dayak dan Tidung telah lama memanfaatkan bahan pangan lokal seperti umbut rotan, daun singkong, dan hasil hutan lainnya yang kaya vitamin dan mineral.

Jika diintegrasikan ke dalam program gizi pemerintah, pangan lokal ini dinilai mampu menjadi solusi yang murah, bergizi tinggi, dan berkelanjutan.

Selain itu, budaya gotong royong yang masih kuat di desa-desa Kaltara juga menjadi potensi besar. Melalui posyandu berbasis komunitas, masyarakat dapat saling mendukung dalam penyediaan makanan tambahan bergizi bagi ibu hamil dan balita, sekaligus memperkuat program pemerintah yang selama ini kerap menghadapi kendala distribusi.

Pengetahuan tentang tanaman herbal dan pengobatan tradisional juga dinilai dapat melengkapi layanan kesehatan modern. Masyarakat adat memiliki pengalaman panjang dalam memanfaatkan tanaman obat untuk menjaga kesehatan ibu hamil dan menyusui. Dengan kajian ilmiah yang tepat, praktik ini dapat dikembangkan secara aman dan terintegrasi.

Di sisi lain, kekayaan cerita rakyat lokal juga dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi gizi yang kreatif dan mudah diterima. Kisah-kisah tentang tokoh yang tumbuh kuat karena mengonsumsi ikan dan sayur, misalnya, dapat menjadi sarana kampanye gizi bagi anak-anak dan keluarga.

Tak kalah penting, keberadaan kebun keluarga dan pertanian subsisten yang masih banyak dijumpai di pedalaman Kaltara juga berpeluang besar mendukung pemenuhan gizi. Dengan pendampingan yang tepat, kebun keluarga dapat diarahkan untuk menanam sayuran, kacang-kacangan, serta buah lokal yang bergizi bagi anak-anak.

Menurut Dr. Lina, upaya penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi medis atau bantuan pangan instan. Pendekatan berbasis budaya dinilai lebih berkelanjutan karena mudah diterima dan dijalankan oleh masyarakat.

“Kaltara memiliki peluang emas untuk menunjukkan bahwa penanganan stunting dapat dilakukan dengan menguatkan identitas dan budaya lokal,” pungkasnya.

Dengan mengintegrasikan pangan tradisional, solidaritas komunitas, pengetahuan herbal, serta pendidikan berbasis kearifan lokal, Kalimantan Utara diharapkan mampu menjadi contoh daerah yang berhasil menurunkan stunting melalui pendekatan yang berakar pada budaya masyarakatnya sendiri.(****)

Share This Article