By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Muhammad Najih Arromadlono: Pemahaman Agama Dangkal Jadi Akar Munculnya Radikalisme
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraTarakan

Muhammad Najih Arromadlono: Pemahaman Agama Dangkal Jadi Akar Munculnya Radikalisme

Redaksi
Last updated: 28 April 2026 19:14
Redaksi
Published: 28 April 2026
Share
SHARE

TARAKAN, KALTARA – Kegiatan dialog publik bertajuk “Transformasi Ideologi Jemaah Islamiyah: Jalan Menuju Wasatiyah” yang digelar di Universitas Borneo Tarakan menghadirkan tiga narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Ustadz Parawijayanto, eks Amir Jemaah Islamiyah Ustadz Wiji Joko Santoso, serta Muhammad Najih Arromadlono atau Gus Nadji dari LAKPESDAM PBNU.

Dalam pemaparannya, Gus Nadji menekankan pentingnya sikap kritis, khususnya bagi kalangan mahasiswa, dalam menyikapi berbagai narasi keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat. Ia mengingatkan bahwa tidak semua gerakan yang mengusung simbol agama benar-benar sejalan dengan nilai-nilai Islam yang moderat.

Menurutnya, fenomena radikalisme kerap muncul dari pemahaman agama yang sempit dan tidak utuh. Ia mencontohkan bagaimana sebagian kelompok menafsirkan teks keagamaan secara parsial, sehingga melahirkan kesimpulan yang keliru dan berpotensi menyesatkan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Terorisme bukan lahir dari kekuatan iman, tetapi justru dari pemahaman agama yang dangkal dan tidak komprehensif,” ujarnya di hadapan peserta diskusi, Selasa (28/04/2026).

Kritik terhadap Narasi Ideologis
Gus Nadji juga menyoroti sejumlah narasi ideologis yang dinilai berpotensi memecah belah, termasuk pandangan yang menolak konsep nasionalisme. Ia menilai, sikap tersebut bertentangan dengan realitas kebangsaan Indonesia yang majemuk.

Ia mengajak mahasiswa untuk tidak mudah terpengaruh oleh propaganda yang mengatasnamakan agama, tanpa memahami konteks dan latar belakangnya secara mendalam.

“Jangan hanya melihat simbol. Harus ada pemahaman kritis agar tidak terjebak pada pemikiran yang justru merusak persatuan,” tegasnya.

Pendekatan Humanis Lebih Efektif
Dalam kesempatan itu, Gus Nadji turut mengapresiasi pendekatan yang dilakukan Densus 88 Antiteror Polri dalam menangani kasus radikalisme dan terorisme di Indonesia. Menurutnya, pendekatan humanis dan dialogis terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan militeristik.

Ia menilai, penanganan terorisme bukan semata persoalan keamanan, melainkan juga menyangkut perang ideologi yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Masalah terorisme adalah tantangan non-konvensional. Bukan hanya soal senjata, tetapi soal pemikiran,” ujarnya.

Peran Strategis Perguruan Tinggi
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkuat wawasan keagamaan, kebangsaan, serta kemampuan berpikir kritis generasi muda. Kampus dinilai menjadi ruang strategis untuk membentengi mahasiswa dari pengaruh ideologi ekstrem.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami ajaran Islam secara utuh, termasuk memperhatikan konteks turunnya ayat (asbabun nuzul), agar tidak terjadi kesalahan tafsir yang berujung pada tindakan menyimpang.

“Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Jika ada ajaran yang mengarah pada kekerasan dan merusak, maka yang keliru adalah pemahamannya, bukan ajarannya,” jelasnya.

Nasionalisme Sejalan dengan Nilai Keislaman
Gus Nadji menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman sejatinya sejalan dengan semangat kebangsaan. Ia menyebut, mencintai tanah air merupakan bagian dari iman, serta menjaga stabilitas negara menjadi tanggung jawab bersama.

Menurutnya, keberadaan negara justru menjadi faktor penting dalam menjamin kebebasan beragama dan keberlangsungan ibadah umat.
“Antara Islam dan negara tidak bertentangan. Menjaga negara berarti juga menjaga ruang bagi umat untuk menjalankan ajaran agamanya dengan aman,” pungkasnya.

Dialog publik ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya moderasi beragama serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran ideologi ekstrem di lingkungan kampus dan masyarakat luas.

Apresiasi Pelaksanaan UKW, Sekprov Berharap Insan Pers Semakin Profesional
Go International, Rumput Laut Kaltara Terbang Jajal Pasar Ekspor
Kaltara Alami Net Outflow Sebesar Rp15,57 Miliar Pada Februari 2022
Terus Berlanjut, Tenant THM Plaza Siapkan Gugatan Baru Kepada Pemkot Tarakan
Hadiri Milad ke 3, Zainal Paliwang Ingatkan Jajaran Benuanta Jaga Nama Baik
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?