Potret Kemiskinan Menyayat Hati, Bu Sagam Bertahan Hidup dari Sisa Timun Warga

Redaksi

BULUNGAN, KALTARA – Kisah pilu tentang kemiskinan kembali terpotret dari Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Seorang ibu yang akrab disapa Bu Sagam harus bertahan hidup dengan memunguti sisa-sisa timun yang dibuang warga demi memenuhi kebutuhan makan keluarganya.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Bu Sagam bersama anak-anaknya menjalani hari-hari yang jauh dari kata layak. Apa yang ia lakukan bukanlah pilihan, melainkan bentuk perjuangan untuk tetap bertahan hidup. Setiap potongan timun yang dikumpulkan menjadi harapan agar dapur keluarganya tetap mengepul, meski sekadar untuk mengganjal perut.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Dengan langkah perlahan dan wajah penuh kelelahan, Bu Sagam mengais sisa hasil pangan yang tak lagi dimanfaatkan. Ia menyadari perbuatannya kerap mengundang rasa iba, namun demi memastikan anak-anaknya tidak kelaparan, ia rela mengesampingkan rasa malu dan harga diri.

Kondisi ekonomi yang sulit, tanpa pekerjaan tetap dan penghasilan memadai, memaksa Bu Sagam mengandalkan apa pun yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Anak-anaknya pun tumbuh dalam keterbatasan, menyaksikan langsung kerasnya hidup sejak usia dini. Meski demikian, Bu Sagam tetap berusaha tegar dan menanamkan nilai ketabahan kepada buah hatinya.

Kisah Bu Sagam menjadi cermin nyata bahwa kemiskinan masih membayangi sejumlah daerah di Indonesia. Di balik berbagai program bantuan sosial dan janji peningkatan kesejahteraan, masih ada warga yang harus berjuang sendiri demi sekadar bertahan hidup. Keterbatasan akses pekerjaan, minimnya pendapatan, serta ketimpangan sosial ekonomi menjadi tantangan besar bagi masyarakat rentan.
Apa yang dialami Bu Sagam juga mengingatkan bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada manusia dengan cerita, perjuangan, dan air mata yang jarang terdengar—seorang ibu yang rela mengorbankan segalanya demi masa depan anak-anaknya.

Hingga kini, Bu Sagam tetap menjalani hidup dengan kesederhanaan. Ia berharap suatu hari keadaan berubah, anak-anaknya dapat mengenyam pendidikan yang layak, dan keluarga kecilnya tak lagi bergantung pada sisa-sisa makanan. Kisah ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih peka dan peduli, sebab di sudut-sudut negeri masih banyak ibu tangguh yang berjuang dalam senyap.(****)
Sumber :
(pojoksatu)

Share This Article