Tarakan, KALTARA – Nama H. Udin Hianggio bukanlah sosok asing dalam sejarah pemerintahan dan politik di Kalimantan Utara, khususnya Kota Tarakan. Mantan Ketua DPRD Kota Tarakan dua periode, Wali Kota Tarakan ke-2, sekaligus Wakil Gubernur Kalimantan Utara pertama, H. Udin dikenal sebagai politisi kawakan yang meninggalkan jejak kuat dalam perjalanan daerah.
Lebih dari sekadar jabatan, H. Udin Hianggio dikenang sebagai legenda politik lokal, pejuang moral, panutan banyak generasi muda, sekaligus figur yang kerap memantik kontroversi karena sikapnya yang tegas dan lugas. Ia dikenal lincah dalam membaca peta politik, tangguh menundukkan lawan, serta menjadi tempat belajar dan bertanya bagi banyak kader muda.
Dalam perjalanan kariernya, integritas menjadi prinsip yang tidak bisa ditawar. H. Udin dikenal tidak memberi toleransi terhadap praktik korupsi. Ia menjaga jarak dari godaan materi dan tak segan memberikan sanksi kepada anak buahnya yang terbukti melanggar, meski telah berulang kali diingatkan.
Namun, seperti banyak tokoh besar lainnya, H. Udin tak luput dari kelemahan manusiawi. Ia dikenal “kalah oleh waktu”. Jam tangan dan penunjuk waktu kerap tak berarti ketika ia tenggelam dalam hobinya bermain catur dan domino, dua permainan yang baginya bukan sekadar hiburan, melainkan sarana berpikir, menenangkan diri, dan merumuskan strategi.
Tak banyak yang tahu, kecakapan politik H. Udin justru ditempa dari meja catur. Filosofi sederhana ia terapkan: merawat pion sebagai rakyat, memperkuat benteng loyalis, menggerakkan kuda partai yang lincah, memanfaatkan intelektual dan birokrat sebagai analis, serta menempatkan ahli strategi sebagai jenderal lapangan. Strategi itu menjadikannya memiliki jaringan luas dan solid, bahkan hingga ke warung kopi sekalipun.
Di balik ketegasan dan kesibukan panjang dalam dunia publik, terdapat kisah pengorbanan keluarga yang jarang tersorot. Sejak muda bekerja di PT Pelni, lalu terjun ke dunia politik, waktu H. Udin nyaris habis untuk urusan publik. Rumah sering kali hanya menjadi tempat singgah. Saat menjabat Wali Kota Tarakan hingga Wakil Gubernur Kaltara dan menetap di Tanjung Selor, kebersamaan keluarga menjadi sesuatu yang mahal.
Anak-anaknya tumbuh dengan kemandirian dan keteguhan, sementara sang istri yang akrab disapa Ibu Haji menjadi sosok di balik layar dengan kesabaran luar biasa. Baginya, kebahagiaan bukanlah kemewahan materi, melainkan kesederhanaan: memasakkan hidangan kesukaan sang suami dan melihatnya tetap sehat bersama keluarga.
Kini, seiring bertambahnya usia dan kondisi kesehatan yang tak lagi seprima dahulu, banyak pihak berharap H. Udin dapat menikmati masa tenang bersama keluarga, menyaksikan anak dan cucu-cucunya tumbuh, sebagai pengganti waktu yang pernah terlewatkan.
Di hari ulang tahunnya, doa dan harapan pun mengalir. Semoga H. Udin Hianggio senantiasa diberikan kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan bersama orang-orang tercinta. Sebab bagi banyak orang, meski jarak dan waktu memisahkan, sosoknya tetap jauh di mata, namun dekat di hati.(HENDRIK)
SUMBER : BANG PAY
( DODY IRVAN IMAWAN)




