TARAKAN, KALTARA – Suasana penuh sukacita dan rasa syukur mewarnai acara syukuran Komuni Suci Pertama yang digelar keluarga Francesco Danilo Wiliam di kawasan perusahaan, Kelurahan Karang Harapan, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Sabtu (13/6/2026) malam.

Francesco Danilo Wiliam atau yang akrab disapa Danilo merupakan putra pertama pasangan Wilhelmus Teodorus Kabut, ST dan Emerensiana Wawu, A.Md. Sebelumnya, Danilo telah menerima Sakramen Komuni Suci Pertama di Gereja Katolik Santa Maria Imakulata Tarakan pada 7 Juni 2026.
Acara syukuran mengusung tema “Akulah Roti Hidup yang Telah Turun dari Surga. Jikalau Seorang Makan dari Roti Ini, Ia Akan Hidup Selama-lamanya” sebagaimana tertulis dalam Injil Yohanes 6:51.
Ayah Danilo, Wilhelmus Teodorus Kabut, menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan merupakan bentuk rasa syukur keluarga setelah anaknya menerima Komuni Suci Pertama.

“Acara malam ini merupakan syukuran keluarga. Prosesi Komuni Pertama sudah dilaksanakan seminggu lalu di gereja. Kami bersyukur dan bangga karena banyak keluarga, sahabat, dan masyarakat yang hadir memberikan doa serta dukungan kepada anak kami,” ujarnya.
Ia berharap doa dan dukungan yang diberikan para undangan dapat menjadi bekal bagi Danilo untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik serta semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Sementara itu, Ketua Umum Kerukunan Keluarga Nusa Tenggara Timur (K2NTT) Kota Tarakan, Lorensius Buri Eben, mengatakan bahwa tradisi syukuran setelah Komuni Pertama merupakan budaya yang masih terus dipertahankan oleh masyarakat NTT, termasuk yang tinggal di perantauan.
Menurutnya, acara tersebut merupakan perpaduan antara nilai budaya dan rasa syukur atas perjalanan spiritual seorang anak yang telah memasuki tahapan baru dalam kehidupan imannya.
“Bagi masyarakat NTT, setelah prosesi Komuni Pertama di gereja biasanya keluarga mengadakan acara syukuran seperti ini. Ini merupakan tradisi turun-temurun yang menjadi bagian dari budaya kami. Melalui acara ini, keluarga mengungkapkan rasa syukur karena anak telah menerima rahmat dan berkat Tuhan serta memasuki tahap kedewasaan dalam kehidupan rohaninya,” jelas Lorensius.
Ia menambahkan, antusiasme warga NTT di Kota Tarakan dalam menghadiri kegiatan semacam ini sangat tinggi karena tradisi tersebut menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan di tanah rantau.
“Tradisi ini terus kami lestarikan sebagai identitas budaya masyarakat NTT yang hidup di perantauan. Harapannya, budaya ini tetap dijaga dan dilaksanakan oleh generasi berikutnya dengan tetap mengedepankan keamanan, ketertiban, dan kebersamaan,” tambahnya.
Acara syukuran berlangsung meriah dan penuh kehangatan dengan dihadiri keluarga besar, kerabat, tokoh masyarakat, serta warga NTT yang berdomisili di Kota Tarakan. (****)




