By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Dari Perahu ke Platform Digital, Digitalisasi Jadi Kunci Masa Depan Perikanan Kaltara
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
INDONESIAPendidikan

Dari Perahu ke Platform Digital, Digitalisasi Jadi Kunci Masa Depan Perikanan Kaltara

Redaksi
Last updated: 18 Januari 2026 23:59
Redaksi
Published: 18 Januari 2026
Share
SHARE

Oleh:
Prof. Ir. Tole Sutikno, Ph.D., ASEAN Eng.
Guru Besar S3 Informatika, Universitas Ahmad Dahlan

Borneonewsjournalist.co.id – Aktivitas nelayan di pesisir Kalimantan Utara (Kaltara) masih identik dengan perahu kecil yang setiap pagi berangkat melaut bermodalkan pengalaman dan naluri. Pola tradisional ini telah menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat pesisir di Tarakan, Nunukan, Sebatik, hingga Bulungan selama puluhan tahun. Namun, perubahan zaman dan tantangan baru menuntut sektor perikanan untuk beradaptasi.

Guru Besar S3 Informatika Universitas Ahmad Dahlan, Prof. Ir. Tole Sutikno, Ph.D., ASEAN Eng., menilai perikanan Kaltara kini berada di persimpangan penting antara mempertahankan tradisi dan memanfaatkan teknologi digital sebagai penopang masa depan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara, sektor perikanan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah, terutama di wilayah pesisir dan perbatasan. Produksi perikanan tangkap, budidaya, hingga rumput laut menjadi sumber penghidupan puluhan ribu masyarakat. Namun, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltara mencatat bahwa produktivitas dan nilai tambah sektor ini masih belum optimal jika dibandingkan dengan potensi yang tersedia.

“Perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi, kondisi perairan yang fluktuatif, serta tekanan pasar menuntut perikanan Kaltara untuk tidak lagi sepenuhnya mengandalkan cara-cara lama,” ujar Prof. Tole dalam keterangannya.

Menurutnya, transformasi menuju platform digital bukanlah perubahan drastis, melainkan langkah bertahap menuju perikanan yang lebih cerdas, aman, dan berkelanjutan. Digitalisasi dapat dimulai dari hal sederhana, seperti akses informasi cuaca yang akurat, peringatan dini kondisi laut, pencatatan hasil tangkapan, hingga perluasan akses pemasaran.

Kondisi serupa juga dialami pembudidaya rumput laut yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir Kaltara. Keberhasilan panen kerap ditentukan oleh faktor alam seperti suhu air, arus, dan penyakit. Informasi digital mengenai kondisi perairan dan waktu tanam dinilai mampu mengurangi risiko gagal panen yang berdampak langsung pada pendapatan keluarga.

Tantangan tidak berhenti di laut. Banyak hasil perikanan Kaltara masih dipasarkan dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah. Minimnya pencatatan produksi membuat nelayan dan pelaku UMKM pesisir sulit merencanakan usaha dan bernegosiasi harga secara adil. Melalui pencatatan digital sederhana, pelaku perikanan dapat memahami pola produksi sekaligus memperkuat posisi mereka dalam rantai nilai.

Meski demikian, Prof. Tole menegaskan bahwa digitalisasi perikanan di Kaltara harus dilakukan secara realistis dan kontekstual. Sebagai wilayah kepulauan dan perbatasan, Kaltara masih menghadapi keterbatasan infrastruktur internet dan literasi digital.

“Teknologi yang dibutuhkan bukan yang paling canggih, tetapi yang paling tepat guna, mudah digunakan, dan benar-benar bermanfaat bagi nelayan,” tegasnya.

Peran pemerintah daerah dinilai krusial dalam membangun ekosistem digital perikanan, mulai dari penyediaan infrastruktur dasar, regulasi yang mendukung inovasi, hingga pendampingan berkelanjutan. Perguruan tinggi dan komunitas teknologi juga diharapkan berkontribusi dalam merancang solusi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Lebih jauh, digitalisasi perikanan harus tetap menghormati kearifan lokal nelayan yang telah diwariskan turun-temurun. Teknologi diharapkan memperkuat pengalaman dan pengetahuan tersebut, bukan menggantikannya.

“Perahu akan tetap menjadi simbol kerja keras nelayan. Namun, di era digital, platform teknologi dapat menjadi alat tambahan agar kerja keras itu menghasilkan kesejahteraan yang lebih baik,” pungkas Prof. Tole.

Dengan langkah digitalisasi yang pelan, inklusif, dan berpihak pada masyarakat pesisir, perikanan Kaltara diharapkan mampu bertahan dan berkembang, sekaligus menjaga laut tetap lestari dan nelayan semakin sejahtera.(****)

Agenda Terselubung: Ruang Berkumpul, Kebebasan Berekspresi dan Melawan Bayang Ketimpangan
Gelar Wisuda, 569 Mahasiswa UT Tarakan Sandang Gelar Sarjana
Dies Natalis Ke-41 SMP Negeri-4 Tarakan, Momentum Silaturahmi Semua Alumni
Sambangi Kaltara, Lebih Dari 3 Ribu Beasiswa KIP dan PIP disalurkan
Permudah Kemudahan belajar-Mengajar, Perkenalkan Aplikasi Skul Id
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?