RAMADHAN1447/H – Bulan suci Ramadhan kembali menyapa umat Islam di seluruh dunia. Kehadirannya selalu dinanti sebagai bulan penuh berkah, ampunan, dan limpahan pahala. Di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, suasana Ramadhan terasa begitu istimewa. Masjid-masjid kembali ramai dengan pelaksanaan shalat tarawih, lantunan tadarus Al-Qur’an menggema, serta tradisi berbuka puasa bersama yang mempererat tali silaturahmi.
Semarak ibadah tersebut menjadi pemandangan yang menghangatkan hati. Namun di balik kemeriahan ritual, terdapat dimensi penting yang kerap luput dari perhatian, yakni pentingnya memperdalam ilmu sebagai fondasi dalam beribadah.
Seringkali umat begitu fokus mengejar pahala puasa, tarawih, dan sedekah, tetapi kurang menguatkan pemahaman atas makna ibadah itu sendiri. Puasa misalnya, tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan pengendalian diri secara menyeluruh. Demikian pula shalat tarawih, bukan hanya soal jumlah rakaat, tetapi juga tentang memahami dan menghayati bacaan yang dilantunkan.
Sejarah mencatat, Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan dengan perintah yang sangat tegas, yakni “Iqra” atau “Bacalah”. Perintah tersebut tidak hanya bermakna membaca teks, tetapi juga membaca realitas, memahami situasi, serta menuntut ilmu. Islam tidak pernah memisahkan antara iman dan ilmu. Keduanya harus berjalan beriringan sebagai satu kesatuan.
Ulama besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal pernah menegaskan pentingnya keseimbangan tersebut. Ia menggambarkan bahwa orang berilmu tanpa iman ibarat raksasa yang menakutkan, sedangkan orang beriman tanpa ilmu bagaikan lentera di siang bolong. Pesan ini menegaskan bahwa iman tanpa ilmu berpotensi menyesatkan, sementara ilmu tanpa iman bisa membawa pada kerusakan.
Di era modern yang dipenuhi arus informasi dan disrupsi digital, keseimbangan antara iman dan ilmu menjadi semakin relevan. Tantangan umat Islam tidak hanya menjaga kekhusyukan ibadah, tetapi juga memastikan pemahaman agama mampu menjawab berbagai persoalan kekinian, seperti radikalisme, intoleransi, degradasi moral, hingga kesenjangan sosial.
Ramadhan dapat menjadi momentum refleksi dan pembaruan diri. Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk memperkuat keseimbangan iman dan ilmu.
Pertama, meningkatkan kualitas ibadah. Selain mengejar kuantitas, umat dianjurkan meluangkan waktu untuk membaca tafsir ayat-ayat yang dibaca agar memahami pesan moral dan hikmah di baliknya.
Kedua, menjadikan majelis ilmu sebagai kebutuhan. Di tengah kemajuan teknologi, akses terhadap kajian keislaman sangat terbuka melalui ceramah daring, podcast, maupun artikel dari sumber yang kredibel dan menyejukkan.
Ketiga, mengaplikasikan ilmu dalam tindakan nyata. Pemahaman tentang sedekah harus diwujudkan dalam kepedulian sosial, sementara ajaran tentang ukhuwah diterapkan melalui sikap saling memaafkan, menjaga silaturahmi, dan menghindari penyebaran informasi yang tidak benar.
Keempat, memperbanyak refleksi atau muhasabah. Ramadhan yang di dalamnya terdapat malam kemuliaan seperti Lailatul Qadar, menjadi waktu tepat untuk mengevaluasi diri. Refleksi membantu memastikan bahwa ilmu yang diperoleh tidak berhenti sebagai teori, tetapi benar-benar membentuk karakter dan akhlak.
Pada akhirnya, tujuan utama puasa adalah meraih derajat takwa. Pribadi yang bertakwa bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga cerdas dalam menyikapi kehidupan. Ia mampu membedakan yang benar dan salah, mengendalikan hawa nafsu, serta memberi manfaat bagi sesama.
Ramadhan tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang peningkatan intensitas ibadah ritual, tetapi juga momentum memperdalam ilmu dan memperkuat karakter. Dengan iman yang kokoh dan ilmu yang mencerahkan, umat Islam dapat menjadi pribadi yang lebih utuh, tidak hanya selama bulan suci, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari sepanjang tahun.(****)




