Adat Lundayeh Nobatkan Bupati Wempi W Mawa Jadi “Fadan Liu Burung”, Simbol Pemimpin dan Penjaga Alam

Redaksi

MALINAU – Dalam suasana sakral penuh makna, Bupati Malinau Wempi W Mawa resmi dianugerahi gelar adat “Fadan Liu Burung”, yang bermakna pemimpin wilayah atau Radca Bawang. Penobatan ini dilakukan oleh Ketua Lembaga Adat Dayak Lundayeh Malinau, Paul Belapang, di arena utama Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Rabu (8/10/2025).

Prosesi penobatan ini menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam gelaran budaya terbesar di Bumi Intimung tersebut. Ribuan masyarakat Dayak Lundayeh dari berbagai penjuru Malinau hadir dengan busana adat lengkap, menyaksikan ritual yang meneguhkan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Salah satu daya tarik utama adalah kemunculan Baweh Meribu atau pasukan seribu, yang membawa tameng, tombak, serta felefet (golok khas Lundayeh). Mereka mengelilingi arena upacara sebagai simbol kekuatan, perlindungan, dan kesetiaan terhadap pemimpin dan tanah leluhur.

Pasukan seribu atau Baweh Meribu yang paling menyita perhatian. Sesuai namanya, seribu orang pasukan dilengkapi tameng, tombak dan felefet atau golok mengitari arena upacara.

Pada Irau Malinau ke-11, masyarakat Lundayeh menampilkan prosesi penobatan pahlawan Fadan Liu Burung kepada bupati Wempi W Mawa, sebagai Pemimpin Wilayah Radcha Bawang.

Prosesi ini disebut sebagai “Ngikit Fadan Liu Burung Kuu Radcha Bawang Idi Nued Tana”. Secara bahasa diartikan sebagai Penobatan Pemimpin Wilayah dan restu peneguhan janji dengan tanah atau alam.

Ketua Lembaga Adat Dayak Lundayeh Malinau, Paul Belapang menerangkan prosesi ini dimulai dari penyambutan calon pemimpin yang diperankan Bupati Malinau, Wempi W Mawa.

“Tanah, hutan, dan air di sekitar kita telah dimeteraikan oleh darah leluhur. Atraksi ini adalah tanda persahabatan antara manusia dengan alam. Jika alam rusak, manusia pun akan punah,” jelasnya.

Paul juga menyampaikan penghargaan kepada Bupati Malinau Wempi, yang menurut tradisi adat Dayak Lundayeh telah diangkat sebagai Radca Bawang, pemimpin yang dipercaya untuk membangun dan menjaga keharmonisan alam serta masyarakat.

“Bapak Bupati adalah Radca Bawang, yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab membangun Malinau. Hutan kita hijau, jadikan dia hijau selamanya sampai anak cucu kita. Air kita mengalir tenang—itulah tanda kehidupan,” ucapnya penuh makna.

Ia menegaskan bahwa masyarakat adat turut bangga dengan berbagai kemajuan yang dirasakan, terutama bagi pelaku UMKM yang kini menikmati hasil dari pembangunan daerah.

“Melalui kesempatan ini, kami dari Lembaga Adat Dayak Lundayeh berharap agar hutan, tanah, dan air dijaga sebagai warisan leluhur untuk anak cucu kita,” tambahnya.

Mengakhiri sambutannya, Paul Belapang menyebut bahwa dengan semangat busu dan utap, pasukan simbolik “1000 pengawal Radca Bawang” akan terus menjaga warisan leluhur agar generasi mendatang tidak salah langkah dalam memanfaatkan alam.

Setelah prosesi ini, dilanjutkan doa-mantra permohonan lewat prosesi Neteng Mengei kemudian Ngetu’ Feu Bulat atau penghargaan dan ucapan selamat datang.

Sebelum masuk ke lokasi upacara, Fadan Liu Burung memotong ikatan rotan atau Netek Uwe sebagai simbol membuka jalan.
Upacara penobatan ditandai dengan pemasangan tanda Fata Sigar (penutup kepala), bakad talun (baju atau jubah kebesaran), dan penyerahan busu (tombak) serta perisai (Utap).

Prosesi puncak ditandai ikrar calon pemimpin bawang dalam Prosesi Natak Jani atau Tengadan. Dilakukan Fadan Liu Burung sebagai ikrar, pernyataan tekad dan kesediaan membangun daerah.

Siga’ atau luapan kegembiraan dilanjutkan dengan lantunan Fekuab atau syair oleh tetua adat. Kemudian disusul Nued Tana’ atau memohon restu, izin, dan pesan perdamaian dengan penguasa alam.

Tanda penobatan kemudian diberikan lewat Ngelua atau mengolesi para tetua adat dengan sepercik darah yang menandakan adanya peneguhan kembali ikatan dengan alam dan semesta.
Puncak acara ditutup dengan Tari Kolosal yang melibatkan ratusan penari.

Gerakan penari melambangkan penghormatan kepada tanah, hutan, dan air sebagai pilar kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh yang diwariskan turun-temurun.

Bupati Malinau Wempi W Mawa, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh masyarakat Dayak Lundayeh yang terus melestarikan budaya warisan leluhur mereka.

“Dalam suasana yang penuh sukacita ini, kita melaksanakan kegiatan yang baik untuk semua masyarakat Malinau, khususnya bagi masyarakat Dayak Lundayeh. Kita sangat menghargai dan menjunjung tinggi budaya adat yang tumbuh dan berkembang di kabupaten ini,” ujarnya.

Wempi menegaskan bahwa pelaksanaan Irau ke-11 merupakan bentuk nyata dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian adat dan budaya lokal.
Menurutnya, kekayaan budaya yang diwariskan memiliki nilai pendidikan yang penting bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

“Apa yang ditampilkan tadi adalah peninggalan yang sangat bernilai. Lestarikan dan kembangkan budaya, jaga dan lindungi seluruh kepentingan masyarakat, khususnya masyarakat Lundayeh,” pesan Wempi.

Dalam kesempatan itu, Bupati Wempi juga berpesan kepada simbolis “1.000 pasukan pengawal Radca Bawang” agar terus menjaga tanah, hutan, dan kampung Lundayeh dengan kearifan lokal.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama membangun Kabupaten Malinau melalui semangat kebersamaan dan gotong royong.

“Mari bersama dengan Pemerintah Daerah membangun Bumi Intimung ini. Wujudkan dan sukseskan lima program daerah bagi masyarakat kita, khususnya bagi masyarakat Dayak Lundayeh,” ajak Wempi.
Wempi juga menegaskan pentingnya semangat persatuan di tengah keberagaman suku di Kabupaten Malinau yang terdiri dari 11 etnis besar.

Ia menilai, festival Irau bukan sekadar Festival budaya, tetapi juga media pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan, adat, dan toleransi antar masyarakat.
“Budaya adalah kita, dan kita adalah budaya. Ada pepatah mengatakan, ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Siapa pun yang hidup di Bumi Intimung ini harus mengenal dan menghormati adat istiadat yang ada,” tuturnya.

Bupati menyampaikan, masyarakat Lundayeh selalu hidup berdampingan dengan alam. Untuk itu, dia berpesan kepada masyarakat Lundayeh di mana pun berada, untuk selalu menjaga alam. (*)

Share This Article