By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Berebut Murid di Era Kompetisi, Sekolah Dituntut Lebih Adaptif dan Berkualitas | Oleh : Retno Widiastuty, S.Pd
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraOpiniTarakan

Berebut Murid di Era Kompetisi, Sekolah Dituntut Lebih Adaptif dan Berkualitas | Oleh : Retno Widiastuty, S.Pd

Redaksi
Last updated: 27 April 2026 13:40
Redaksi
Published: 27 April 2026
Share
SHARE

OPINI – Menjelang tahun ajaran baru, persaingan antar lembaga pendidikan semakin terasa, bahkan hingga ke tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar. Dalam satu wilayah, kerap ditemukan beberapa sekolah dengan target peserta didik yang sama, sehingga menciptakan kompetisi yang tidak terhindarkan.

Fenomena ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan berkualitas. Orang tua kini tidak lagi memilih sekolah secara sembarangan, melainkan mempertimbangkan berbagai aspek seperti kualitas tenaga pendidik, program pembelajaran, fasilitas, hingga citra lembaga.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Pakar pemasaran pendidikan, Philip Kotler dan Karen Fox dalam konsep pemasaran jasa pendidikan menegaskan bahwa lembaga pendidikan perlu memahami kebutuhan pasar agar mampu bertahan dan berkembang. Artinya, sekolah tidak cukup hanya hadir, tetapi harus mampu menunjukkan keunggulan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Namun demikian, masih banyak lembaga pendidikan yang menerapkan strategi promosi secara instan, seperti potongan biaya atau kampanye besar-besaran tanpa memahami kebutuhan calon peserta didik. Strategi semacam ini dinilai kurang efektif untuk jangka panjang.

Menurut Buchari Alma dalam bukunya tentang pemasaran jasa, keberhasilan pemasaran pendidikan seharusnya berbasis pada kualitas layanan dan nilai yang ditawarkan, bukan sekadar promosi.

Salah satu langkah strategis yang dinilai penting adalah melakukan assesmen kebutuhan (needs assessment). Proses ini bertujuan untuk mengidentifikasi harapan masyarakat terhadap layanan pendidikan melalui survei, wawancara, maupun observasi langsung.

Penelitian Joyce L. Epstein menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana sekolah memahami kebutuhan mereka. Dengan demikian, lembaga yang mampu membaca kebutuhan masyarakat akan lebih mudah membangun kepercayaan publik.

Setelah kebutuhan terpetakan, langkah berikutnya adalah menerapkan manajemen pendidikan yang adaptif dan profesional. Hal ini mencakup perencanaan strategis, pengelolaan sumber daya manusia, serta inovasi dalam pembelajaran.

Tony Bush dalam kajiannya menyebutkan bahwa kepemimpinan dan manajemen yang kuat menjadi faktor utama dalam peningkatan mutu pendidikan.

Beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain:
– Menetapkan visi dan misi yang jelas serta memiliki keunikan
– Meningkatkan kualitas guru sebagai ujung tombak pendidikan
– Mengembangkan program unggulan sesuai kebutuhan masyarakat

Selain itu, membangun kepercayaan publik menjadi faktor penting. Transparansi, komunikasi yang baik dengan orang tua, serta konsistensi layanan akan memperkuat citra lembaga. Bahkan, rekomendasi dari orang tua ke orang tua lain seringkali menjadi strategi pemasaran paling efektif.

Di era digital, pemanfaatan teknologi juga menjadi kunci. Website resmi, media sosial, serta platform komunikasi digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan program dan menjalin interaksi dengan masyarakat.

Meski persaingan semakin ketat, tujuan utama pendidikan tetap tidak boleh bergeser. Pendidikan harus tetap berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara optimal, bukan sekadar mengejar jumlah siswa.

Pada akhirnya, lembaga pendidikan yang mampu bertahan adalah yang mampu memahami kebutuhan masyarakat sekaligus mengelola institusi secara profesional. Dengan strategi yang tepat, sekolah tidak hanya akan tetap eksis, tetapi juga menjadi pilihan utama bagi masyarakat.

Daftar Pustaka:
Alma, B. (2018). Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa. Bandung: Alfabeta.

Bush, T. (2008). Leadership and Management Development in Education. London: Sage.

Epstein, J. L. (2011). School, Family, and Community Partnerships. Boulder: Westview Press.

Kotler, P., & Fox, K. F. A. (1995). Strategic Marketing for Educational Institutions. New Jersey: Prentice Hall.

HIPMI Kaltara Akan Gelar RAKERDA & Pelatihan DIKLATDA Sebagai Proses Perekrutan Anggota Baru HIPMI | “Bersama HIPMI, Wujudkan Pengusaha Pejuang, Pejuang Pengusaha”
Rayakan HUT ke 50, Iwapi Bagikan Makanan Bergizi Gratis
Turnamen Futsal Antar Wartawan Digelar, Siwo Tarakan Apresiasi Perjuangan Peserta
Pemprov Kaltara Dorong Tenaga Kerja Lokal Jadi Pelaku Utama Pembangunan
Tak Diakui Sebagai Ahli Waris, Juliet Perjuangkan Hak atas Hotel Sejahtera Lewat Jalur Hukum
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?