By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Efek Pandemi, Tempat Ibadah Sepi Umat
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraPemerintahanRagamTarakan

Efek Pandemi, Tempat Ibadah Sepi Umat

Redaksi
Last updated: 13 Februari 2021 18:29
Redaksi
Published: 13 Februari 2021
Share
SHARE

TARAKAN – Tidak seperti tahun sebelumnya yang biasanya ramai umat beribadah, kini di Klenteng Toa Pek Kong terbilang sepi.

Kondisi umat yang beribadah di Toa Pek Khong
Kondisi umat yang beribadah di Toa Pek Kong

Dijelaskan Ketua MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Kota Tarakan, Ayi Diyanto bahwa di tahun sebelumnya umat yang datang beribadah di Klenteng Toa Pek Kong bisa mencapai 500an, tapi tahun ini hanya sekitar 200 an saja.

“Tadi malam itu kan puncaknya, Untuk acara puncaknya sampai jam 12 malam tapi yang datang sedikit saja, bahkan tadi pagi, umat yang datang beribadah hanya sekitar 50 an saja.” ungkapnya, (12/02).

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Banyak umat yang tidak berani datang karena ini pandemi Covid-19, banyak yang sembahyang di rumah. Sebenarnya sembahyang di mana saja itu kan sama saja, yang penting niat kita,” tambahnya.

Secara administrasi, jumlah umat Khonghucu di Tarakan sekitar 600 an jiwa.

Lanjutnya lagi, untuk perayaan Imlek tahun ini tidak dirayakan besar-besaran, karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19.

“Di Klenteng memang tidak ada keramaian, tidak ada acara barongsai, Kita melaksanakan instruksi dari MAKIN Pusat,” bebernya.

Dan untuk Perayaan kali ini juga tidak menggelar open house atau terima tamu di rumah. Silaturahmi hanya dilakukan melalui virtual.

Ia juga menghimbau masyarakat Tionghoa di Tarakan untuk mematuhi intrusksi pemerintah untuk tidak merayakan Imlek dengan mengumpulkan orang banyak.

“Jadi silaturahmi itu hanya lewat virtual saja, untuk kunjungan terima tamu tidak ada sama sekali, cukup sederhana di rumah saja,” imbuhnya.

Mengenai ibadah di Klenteng, Ayi diyanto mengatakan tetap dilaksanakan seperti biasanya, namun tetap dengan protokol kesehatan. dan Ibadah di Klenteng dilaksanakan secara sederhana. Selesai sembahyang jemaat langsung pulang.

“Tempat ibadah kita nggak boleh tutup, siapa pun boleh sembahyang, cuma kita ada pembatasan untuk protokol kesehatan,” katanya.

The Last Guardian Playstation 4 Game review
Operasi Patuh Kayan Dimulai, Ini Sasaran Operasinya
Pimpinan DPRD Kaltara Hadiri Pembukaan Uji Kompetensi Wartawan SMSI Tahun 2025
Datu Iqro : Perayaan Sannipata Waisak, Momentum Perkuat Kedamaian Dan Toleransi Bermasyarakat
Ketua IWL Tarakan Dukung Raperda Perbukuan dan Budaya Literasi, Dorong Lahirnya Penulis Perempuan Inspiratif
TAGGED:covid19ImlekKalimantanutarakaltaraPandemiTarakan
Share This Article
Facebook Email Print
3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?