By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Ramadhan Momentum Sucikan Niat dan Tajamkan Pemikiran | Oleh: Muhammad, S.Kom., M.Kom. Dosen STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati Mahasiswa S3 Informatika UAD Yogyakarta
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
RAMADHAN 1447 H/2026M

Ramadhan Momentum Sucikan Niat dan Tajamkan Pemikiran | Oleh: Muhammad, S.Kom., M.Kom. Dosen STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati Mahasiswa S3 Informatika UAD Yogyakarta

Redaksi
Last updated: 19 Februari 2026 20:44
Redaksi
Published: 19 Februari 2026
Share
SHARE

TARAKAN, KALTARA – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, Dosen STMIK PPKIA Tarakanita Rahmawati, Muhammad, S.Kom., M.Kom., mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai momentum menyucikan niat sekaligus menajamkan pemikiran di tengah dinamika era digital.

Selain aktif sebagai akademisi di Tarakan, Muhammad juga tercatat sebagai mahasiswa Program Doktor (S3) Informatika di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Dalam refleksinya bertajuk “Ramadhan, Sucikan Niat dan Tajamkan Pemikiran”, ia menekankan bahwa Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan yang identik dengan kemeriahan kuliner dan kegiatan seremonial, melainkan madrasah komprehensif yang mendidik ruhani sekaligus akal.

“Ramadhan adalah ruang pendidikan karakter yang utuh. Ia tidak hanya melatih spiritualitas, tetapi juga membentuk integritas dan kejernihan berpikir,” ujarnya.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Niat sebagai Fondasi Integritas:
Menurutnya, dalam khazanah keilmuan Islam, niat merupakan fondasi setiap amal. Ia mengutip pandangan ulama klasik yang menyebut niat sebagai ruh dari setiap perbuatan. Puasa, lanjutnya, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan keikhlasan yang sangat personal.

Di tengah era digital yang sarat pencitraan dan validasi sosial, Ramadhan menjadi momen penting untuk melakukan tazkiyatun niat atau penyucian niat. “Puasa melatih kita untuk jujur pada diri sendiri. Tidak ada yang tahu kita berpuasa selain Allah. Inilah latihan integritas paling mendasar,” jelasnya.

Ia menambahkan, ketika niat telah bersih dari riya’ dan kepentingan sempit, seseorang tidak mudah goyah oleh kritik maupun silau oleh pujian. Karakter inilah, menurutnya, yang menjadi ciri intelektual sejati.

Menajamkan Akal di Bulan Suci :
Selain penyucian niat, Muhammad juga menyoroti pentingnya menajamkan pemikiran selama Ramadhan. Ia mengingatkan bahwa Islam memuliakan akal, sebagaimana tercermin dalam wahyu pertama yang memerintahkan untuk membaca.

“Ramadhan bukan alasan untuk melemahkan produktivitas intelektual. Justru setelah tubuh beradaptasi, puasa dapat meningkatkan kejernihan berpikir dan kesadaran diri,” ungkapnya.

Ia mengajak umat Islam melakukan “detoksifikasi intelektual” dengan mengurangi konsumsi informasi instan dan dangkal, serta menggantinya dengan aktivitas yang memperkaya wawasan.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain membaca Al-Qur’an dengan tadabbur, aktif berdialog dalam majelis ilmu, serta menulis sebagai sarana melatih logika dan menyusun gagasan secara sistematis.

Sinergi Hati dan Akal :
Lebih lanjut, Muhammad menekankan pentingnya sinergi antara hati yang bersih dan pikiran yang tajam. Menurutnya, kecerdasan tanpa niat suci dapat melahirkan sikap manipulatif, sementara kesalehan tanpa wawasan luas berpotensi melahirkan sikap eksklusif.

“Ramadhan mempertemukan keduanya. Kita dididik menjadi pribadi yang saleh secara ritual sekaligus saleh secara sosial,” katanya.

Ia menilai, di tengah tantangan bangsa seperti persoalan ekonomi, polarisasi sosial, dan disinformasi digital, Indonesia membutuhkan generasi yang terhubung pada nilai-nilai ketuhanan sekaligus mampu membaca realitas secara kritis.

Muhammad pun mengajak masyarakat memanfaatkan Ramadhan sebagai momentum restart bagi jiwa dan akal. Ia mengingatkan agar umat tidak hanya sibuk dengan menu berbuka, tetapi juga memperkaya “menu berpikir”.

“Dengan hati yang jernih kita filter kebencian, dengan akal yang tajam kita lawan hoaks. Ramadhan adalah universitas kehidupan. Semoga kita keluar darinya dengan niat yang suci dan pemikiran yang tajam untuk kemajuan peradaban,” pungkasnya.(****)

LPM Juata Laut: Lomba Bedug Sahur Pererat Silaturahmi dan Gerakkan Ekonomi Warga Juwata
Keluarga Gorontalo Tarakan Berbagi 1.000 Kotak Takjil, Jufri Budiman: Wujud Kepedulian di Tanah Perantauan
PNM Cabang Tarakan Ajak Anak Yatim Berbuka Bersama, Bagian dari Iftar Serentak PNM di 58 Cabang Se-Indonesia
Camat Tarakan Utara Apresiasi Antusiasme Warga di Lomba Bedug Sahur Juata Laut
Wali Kota Tarakan Lepas Peserta Lomba Bedug Sahur di Juata Laut
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?