By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Borneo News JournalistBorneo News JournalistBorneo News Journalist
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
Reading: Sekda Malinau Tegaskan: Martabat Perbatasan Tak Cukup dengan PLBN, tapi dengan Infrastruktur yang Hidupi Warga
Share
Font ResizerAa
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
  • TV Online
  • Tarakan
  • Bulungan
  • Nunukan
  • Malinau
  • Tana Tidung
  • Zona Borneo
Search
  • Beranda
  • Kaltara
    • Bulungan
    • Tarakan
    • Nunukan
    • Malinau
    • Tana Tidung
    • Zona Borneo
    • Olahraga
  • Pemerintahan
  • Parlementer
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Ragam
    • Pendidikan
    • Kuliner
  • Liputan Khusus
    • Advetorial
    • Internasional
    • Opini
  • TV Online
KaltaraMalinau

Sekda Malinau Tegaskan: Martabat Perbatasan Tak Cukup dengan PLBN, tapi dengan Infrastruktur yang Hidupi Warga

Redaksi
Last updated: 24 Oktober 2025 15:06
Redaksi
Published: 24 Oktober 2025
Share
SHARE

Borneonewsjournalist.co.id, Malinau – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau menyoroti ironi status perbatasan sebagai ‘Beranda Depan NKRI’. Konsep yang digaungkan sejak era Presiden SBY itu dinilai masih jauh dari kenyataan di lapangan, yang disebut sebagai ‘zona abu-abu’ sepanjang 504 km di perbatasan Malinau, Kalimantan Utara.

Dalam Seminar Nasional “504: Malinau Beranda Merah Putih”, Pemkab Malinau menegaskan bahwa penguatan infrastruktur internal jauh lebih mendesak daripada sekadar pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN).

Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau, Ernest Silvanus, yang juga Ketua Panitia Irau Ke-11, menjelaskan bahwa kondisi di lapangan belum mencerminkan gagasan ‘beranda depan’ yang seharusnya menjadi wajah pertama Indonesia di mata negara tetangga, Malaysia.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Perbatasan kuat Indonesia bermartabat… kuat ini adalah dari segala sisi. Bukan hanya bicara tentang pertahanan keamanan, tapi juga bicara tentang sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan semuanya. Jadi kuat ini menunjukkan bahwa ini lho Indonesia,” ujar Ernest Silvanus, Jumat (24/10) kepada awak media.

Seminar ini sengaja digelar bertepatan dengan Irau Malinau agar seluruh pemangku kepentingan, termasuk tokoh adat, camat, dan pemuda dari perbatasan, dapat hadir dan mendengar langsung komitmen pemerintah.

Ketika ditanya mengenai perkembangan PLBN, Ernest menyatakan harapannya agar pos lintas batas seperti yang di Long Nawang dapat segera dioperasionalkan. Menurutnya, operasionalisasi PLBN penting untuk melegalkan lalu lintas warga, baik untuk kepentingan ekonomi, kesehatan, maupun sosial.

“Kalau sudah bisa beroprasional tentu akan memudahkan kami, terutama kalau masyarakat kami ada kepentingan ekonomi dan kepentingan kesehatan. Ini yang paling penting,” katanya.

Meski demikian, saat dihadapkan pada pilihan prioritas antara PLBN dan infrastruktur jalan, Sekda Malinau dengan tegas memilih infrastruktur.

“Sebenarnya sama-sama penting karena itu satu-kesatuan.Tapi kalau ditanya yang mana yang penting? Ya, infrastruktur yang penting,” tegasnya.

Alasannya, jika konektivitas internal di dalam negeri sudah terbangun, ketergantungan masyarakat perbatasan terhadap Malaysia akan otomatis berkurang.

“Kenapa? Kalau jalan kita ini bisa terhubung, misalnya Apokayan, Sungai Boh bisa terhubung ke Mahakam Hulu dan Kutai Barat, saya pikir PLBN itu bisa jadi nomor sekian. Karena kebutuhan ekonomi kita bisa diisi atau dipenuhi oleh Indonesia sendiri. Berarti kepentingan keluar  negeri itu makin mengecil,” jelas Ernest.

Upaya Pemkab di Tengah Keterbatasan
Ernest memaparkan, Pemkab Malinau telah berupaya maksimal untuk hadir di tengah masyarakat perbatasan meski dengan keterbatasan. Salah satu fokus utamanya adalah mengatasi isolasi wilayah melalui subsidi transportasi.

“Kami sudah melakukan, salah satunya, subsidi penerbangan. Tahun ini kalau nggak salah di atas Rp 35 miliar untuk subsidi penerbangan ke seluruh wilayah perbatasan kita,” ungkapnya.

Selain itu, pemkab juga memberikan subsidi ongkos transportasi darat dan sungai, serta mengizinkan beberapa kecamatan dan desa mengalokasikan dana untuk infrastruktur. Ia mencontohkan kondisi mendesak di Bandara Mahak Baru, Kecamatan Mahal Baru.

“Jika tidak segera ditangani, warga di wilayah Sungai Boh harus menempuh perjalanan darat dua hari ke Long Apung atau memutar jauh melalui Mahakam Hulu dan Kutai Barat hanya untuk bisa terbang,” bebernya.

Melalui seminar nasional ini, Ernest berharap ada kesepahaman yang sama antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah mengenai penanganan perbatasan. Tujuannya agar masyarakat perbatasan dapat benar-benar merasakan kemerdekaan dalam arti terpenuhinya kebutuhan dasar.

“Supaya masyarakat kami yang ada di perbatasan itu juga merasakan ini lho, yang namanya Merdeka,” ujarnya.

Diketahui, Seminar Nasional “504: Malinau Beranda Merah Putih hingga detik ini masih terus berlangsung. Jurnalis detikKalimantan akan terus mengawal seminar tersebut. (****)

PNM Cabang Tarakan Ajak Anak Yatim Berbuka Bersama, Bagian dari Iftar Serentak PNM di 58 Cabang Se-Indonesia
Turun Temui Korban Banjir, Pemprov Siap Bangun Rumah Warga Yang Hancur
Tinjau Gedung Baru BPSDM, Sekprov Ingin ASN Segera Tempati Fasilitas yang Lebih Layak
Ada Apa Bawaslu Gelar Sidang Kode Etik Diam-diam?!!!
Cegah Kriminalitas Malam Hari, Patroli Malam Digencarkan
Share This Article
Facebook Email Print
Borneo News JournalistBorneo News Journalist
© 2020 - 2024 - PT. YAFRAN BORNEO MULTIMEDIA | Borneonewsjournalist.co.id
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Terms and Conditions
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?